Senin, 06 Maret 2017

KISAH KI WARUGAN

Adalah Ki Warugan, seorang bekas anggota paguyuban sihir Randang Gageh, kini menapakkan diri di sebuah wilayah dengan ketimpangan sosial begitu kentara. Semenjak lama setelah ribut-ribut terakhir di paguyuban sihir yang menyebabkan anggotanya tercerai berai, ia mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Sihir yang dianugerahkan kepada dirinya termasuk dalam kategori sihir natural, yakni yang berasal dari darah, bawaan  ragawi lahiriah. Tidak banyak yang terlahir dengan bawaan sihir natural seperti itu di paguyuban sihir Randang Gageh, kecuali satu, seorang yang namanya bila diingat akan menyebabkan luka lama kambuh kembali.
Sudah terhitung ratusan tahun dia hidup menyendiri. Mengelana dalam naungan dan bimbingan kebajikan. Satu pandu yang meyakinkan diri untuk jangan dahulu moksa. Umat manusia membutuhkan uluran sihir baiknya. Bila kau tengok apa yang senantiasa bergejolak di antara umat manusia, niscaya kau akan percaya Ki Warugan ini bakalan hidup selamanya. Betapa tidak, manusia mana yang hidup dalam satu jalur saja? Jalur kebaikan? Nihil. Selalu saja ada bentrok. Ki Warugan hadir dari balik tabir muslihat untuk memperbaiki itu.
Selama ratusan tahun dia menjelajahi dunia yang tak bersudut, sudah tak terkira berapa wilayah yang dia singgahi untuk diberi pertolongan. Dirinya pun tak mau menghitung, demi menghindari ujub. Hal yang pantang bagi penyihir beraliran putih. Ki Warugan senantiasa mewujud diri sebagai rakyat jelata, pelancong yang rehat di kedai, bahkan pengemis dengan muka melas dan koreng di sekujur tubuh. Demikian itu agar ia dapat mendengarkan keluh kesah rakyat kecil yang ditindas kasta menengah dan tinggi.

Selasa, 17 Januari 2017

PUTAR BALIK WAKTU

Alden Carter duduk di kursi roda dan menikmati pemandangan danau Michigan dari jendela. Musim panas mengundang kembali para pemuja matahari dan kapal-kapal baik kecil dan besar bergoyang merayakan bersama gelombang danau. Istri Alden, Millie, berseru dari dapur. “Alden, sayang, aku membuat roti lapis tuna. Mari bersantap denganku di dapur.”
“Baik, Millie,” jawab Alden dan mendorong kursi rodanya sendiri menuju meja dapur.
Millie meletakkan semangkuk salad di meja dan menyusul sepiring roti lapis di hadapan Alden. “Kau mau kopi, Alden?”
“Boleh, secangkir saja. Terima kasih.”
Millie menuangkan kopi ke cangkir dan meletakkannya di sebelah piring Alden.
“David dan Mara jadi berkunjung hari inikah?”
“Mereka bilang akan datang sepulang kerja. Bisnis barang antik itu pekerjaan nonstop kalau baru jalan. Aku penasaran apakah Mara tahu apa yang menantinya ketika dia menikahi seorang wirausaha.”
“Gadis kecil kita suka bekerja, jadi kupikir dia bahagia. Aku suka David. Dia pria yang baik.”
Millie duduk dan menggigit roti lapisnya. Dia melihat Alden yang mencoba mengendalikan guncangan tangannya demi mencoba mengangkat roti lapisnya, namun roti lapisnya jatuh juga. “Aduh, Millie. Ini semakin parah.”
“Sini, sayang, biar kubantu.” Kata Millie, lalu menyuapi suaminya.
Alden menunduk sampai dagunya menyentuh dada lalu tersedu. Millie memeluknya lekat. “Millie, aku seperti bayi yang harus disuapi melulu.” Isaknya.
“Alden, delapan tahun lalu, ketika aku sakit parah aku pun tak bisa berbuat apa-apa, dan aku harus disuapi. Aku sebetulnya tidak mau, tapi tak ada pilihan. Aku harus membiarkanmu menyuapiku.”
“Aku tahu, sayang, tapi kau sembuh. Sedangkan aku tidak. Sisa hidupku sebentar lagi, dan aku tidak mau menghabiskannya dalam kondisi ini.”
“Sayangku, seberapa pun waktu kita tersisa, kita akan menghabiskannya bersama, dan aku akan senantiasa merawatmu.”
Mereka selesai makan, dan Millie mendorong Alden kembali ke jendela. “Alden, aku akan mencuci piring dan menyiapkan makan malam. Panggil aku ya kalau ada perlu.”
“Baik, Millie, terima kasih.” Tanggapnya, lalu Millie meninggalkan ruangan.
“Ke mana hidup akan membawaku?” Alden membatin sembari mengamati kapal-kapal di danau. “Aku kini tak berguna, cacat oleh penyakit yang perlahan merenggut jiwaku. Kapan aku jadi lumpuh sepenuhnya? Kalau itu terjadi, aku ingin mati saja,” dia berkata dengan pasti. “Kuingin muda kembali,” lanjutnya sendu.
Malam itu, Alden bermimpi dirinya berdiri di depan cermin berhadapan dengan sesosok tanpa wajah.
“Siapa kau?”
“Hal itu tidak perlu kau ketahui. Yang perlu kau ketahui adalah kau yang memanggilku.”
“Aku memanggilmu?”
“Ya. Kau membuat permohonan yang besar, dan hal itu tidak bisa kuanggap remeh. Kau berharap menjadi muda lagi. Pertanyaanku, apakah kau sungguh-sungguh memohonkan itu?”
“Uh, ya benar. Aku lagi sekarat; tidak ada obat untuk penyakitku, dan aku tidak mau mati tak berdaya, makanya aku memohon agar aku kembali sehat walafiat.”
“Selesai. Permohonanmu dikabulkan.”
“Tapi bagaimana dengan istriku?”
“Istrimu tidak ikut memohonkan yang sama.”
“Tapi aku tidak bisa tidak bersama istriku. Dia pasti menginginkan yang kuinginkan. Dia juga sedang dalam kondisi kesehatan yang buruk dan dia pun menginginkan kembali sehat walafiat.”
“Baiklah. Ketika kalian bangun, kalian berdua akan kembali sehat walafiat, sangat sehat walafiat.”
Keesokan paginya, putri Alden dan Millie, Mara, beserta suaminya, David, mengetuk pintu depan. “Hmm. Tak ada yang menjawab,” kata David, mengetuk lagi, lalu membuka pintu. “Dad, Mom, di mana kalian?”
David dan Mara mencari ke dalam rumah. “David, kemarilah,” Mara memanggil, David pun bergegas datang.
“Ya ampun.. apa-apaan…? Kok ada mereka?”
“Nah itulah, David,” ucap Mara, mendekati tempat tidur dan mendapati ada dua bayi. “Aku tak mengerti. Di mana ayah dan ibuku dan dari mana bayi-bayi ini datang?”
 “Kau jaga dua bayi ini sementara aku menanyai tetangga,” kata David kemudian pergi.
David tidak menemukan orangtua Mara. Dia melaporkan hilangnya mereka ke polisi, dan polisi menyelidiki sampai mereka kehabisan petunjuk. Hilangnya orangtua Mara menjadi misteri tak terpecahkan. Tapi mereka tidak melaporkan mengenai dua bayi itu. Mara ingin memelihara dan membesarkan mereka, jadi dia membawa dua bayi itu pulang, jadilah David dan Mara sebagai orangtua dari orangtuanya Mara. Mereka menikmati menjadi orangtua; hidup dengan adanya bayi sangat menyenangkan. Untuk saat ini memang baik, tapi seiring waktu bayi itu tumbuh……. Kau bisa bayangkan sendiri.

Tamat.


Biodata penulis cerpen: Sembari mengajarkan pidato dan Bahasa Inggris di kampus, Mr. Greenblatt menulis banyak cerpen dan drama, salah satunya menang penghargaan di Kampus Smith. Setelah pensiun, dia menulis banyak lagi cerpen, novella, dan drama. Beberapa dari karyanya diterbitkan di majalah daring, dan lainnya dicetak dalam bentuk antologi.

Senin, 16 Januari 2017

SUATU MALAM UNTUK DIKENANG

Di ruang Advanced English 11, Tom Dudley menunggu kelas dimulai sembari mengetukkan jari di meja. Remaja lelaki berumur 16 tahun itu memiliki wajah yang tampan, dia murid rajin yang hanya memiliki sedikit teman dekat disebabkan sikapnya yang pemalu. Dia bukan seorang yang suka mendekati gadis-gadis di SMA Marshall, di luar kewaspadaannya tiba-tiba Jill Babcock mendekat dan duduk di sampingnya.
“Hai Tom. Sibuk gak?” gadis manis berambut coklat lurus selembut sutra itu mencondongkan tubuhnya ke Tom.
“Umm, gak sih??” mengobrol bukanlah keahlian Tom. Coba tanyakan padanya tentang Perang Saudara Amerika baru dia bisa bicara panjang lebar ngalor ngidul. Ngobrol bersama cewek, dia langsung kikuk.
“Velvet dan aku mau datang ke pesta dansa Sadie Hawkins Jumat ini, kami mau ajak kamu ikut. Kalau kamu luang sih.”
Dudley mengingat-ingat ada rencana apa dia di hari Jumat. Yup, dia lowong. Tidak sesibuk di hari-hari lain. Jadi.. Jumat bakal ada acara dansa bersama gadis-gadis manis ini atau nonton filmnya Jennifer Lawrence. Nah, Jennifer Lawrence memang kece tapi satu sore bersama gadis sungguhan pastilah lebih asik.
“Oke, aku akan ikut kalian.”kalian? seolah sudah akrab sekali untuk menyebut itu. Tapi bukankah begitu caranya bergaul?
Jill tersenyum dan membalas, “asik, kami jemput kamu di rumah jam 7 ya.” Dudley membalas senyum dan melihat, terpikat, tubuh langsing Jill yang bergerak dengan anggunnya kembali ke belakang kelas. Demi Tuhan, gadis itu cantik sekali.
Dia mengembuskan napas gugup, mengalihkan pandang ke depan kelas. Dari sudut matanya dia mendapati teman baiknya, Dan Kirchhoff, memberi isyarat sukses dengan tangannya sembari komat-kamit “Bro, kau jagoan!” Jiah, Tom pasti akan dicandai nanti jam makan siang.

BINTANG KECIL DI LANGIT YANG BIRU

Malam tergelar hening di jalanan June Carter selagi si bayangan bergerak di pepohonan. Angin bertiup lembut, membelai bebungaan di taman Bu Johnson. Rumah mereka adalah rumah terakhir di jalan itu. Rumah tersebut telah ditinggalkan tak berpenghuni selama bertahun-tahun sebelum keluarga Johnson membelinya. Pak Johnson cukup girang membeli rumah tersebut dengan harga murah; dia pun memberi tip murah hati kepada agen rumah itu.
Si bayangan bergerak menuju rumah itu, terpanggil oleh film yang tengah ditonton Bu Johnson di ruang keluarga. Di luar rumah, jalanan sunyi senyap. Anjing tetangga meringkuk takut. Hewan itu dapat merasakan kehadiran makhluk kegelapan di sekitar.
Kejadian lagi. Sedang terjadi sebab tidak ada yang memperingati mereka. Para tetangga tahu keluarga Johnson pindah ke rumah itu namun tak ada yang memberitahu mereka mengenai peristiwa yang biasanya terjadi di situ.
Si bayangan bergerak di antara pepohonan dan berhenti di dahan pohon sebelah rumah itu. Dari situ, ia mengawasi rumah dengan tenang. Tiang lampu menerangi jalanan namun tidak sampai ke dekat pepohonan.
Angin mulai bertiup agak kencang selagi si bayangan bergerak bersamanya. Kabut tipis bergerak di bawah naungan kegelapan; lampu jalan mati seketika saat kegelapan menggulung menuju rumah itu.
Di ruang keluarga, Bu Johnson menonton film yang dia lihat ada di rubanah. Dia menemukannya saat membersihkan tempat itu sehari setelah pindah. Dia memutar menghadap tangga. “Evelyn, bisakah kah periksa makanan di oven?” serunya.
Si bayangan bergerak menembus pagar menuju tembok rumah. Dari situ, ia menatap Bu Johnson melalui jendela ruang keluarga.

Minggu, 15 Januari 2017

TEMPAAN KEGELAPAN

TEMPAAN KEGELAPAN

Hanya jeritan yang dapat didengar dari lorong gelap mencekam penjara bawah tanah. Inilah wajah sesungguhnya negeri agung Hace. Di bawah Benteng Admor yang mengagumkan, terbentang di bawahnya siksaan pedih, dan itu yang sedang dilalui Caelin, kepalanya dibentur-benturkan ke dinding batu oleh penawannya. Ia merasa menyedihkan, terjerat dalam belenggu besi, memar dan berdarah-darah dan penjaga Admor amat menikmati setiap cuil deritanya itu; mereka telah menunggu lama untuk ini.
Caelin tahu sejak anak panah menancap di betisnya bahwa semuanya berakhir, para penjaga Hacian telah menuntaskan perburuan mereka, mereka telah menangkap orang yang mereka cari: seorang pembunuh berantai, bersalah atas banyak pembunuhan orang-orang tak berdosa. Caelin tidak sepakat. Tokoh politik bukan termasuk orang-orang tak berdosa.
Semua perlengkapan membunuhnya terlucuti dan ia dipakaikan baju katun menyedihkan tawanan penjara Admor, ia berjalan di koridor dingin, melewati setiap sel-sel penjara di mana tangan-tangan menggapai putus asa demi usaha merenggut si pembunuh keji itu. Ia merasa seperti babi gemuk yang diarak di hadapan gelandangan. Selagi ia melanjutkan perjalanan bersama dua penawannya, hendak berbelok ke kanan di koridor berikut, ada tangan yang mencengkeram belenggu di tangannya yang berdarah. Terlalu goyah untuk bertindak, Caelin ditarik ke sel gelap, oleh seorang lelaki kotor berambut panjang di belakang jeruji, tangannya kini melingkari leher Caelin. “Ohh mereka sungguh senang kau ada di sini.” Bisiknya pelan di telinga Caelin, selagi penjaga berlari ke sel tersebut dan membebaskannya dari cengkeraman lelaki itu.
“Kau tak akan menyentuhnya lagi, anjing bangsat!” penjaga yang lebih tinggi meneriakinya, lalu ia membuka pintu sel, si tawanan itu takut dan merasa menyesal, tampak dari wajahnya yang kotor. Pergi ke sudut seperti hewan ketakutan, si penjaga mencengkeram leher si tawanan, kemudian menghunjamkan pisaunya. Mayat lelaki itu tersungkur ke lantai, dengan wajah yang megap-megap dan tangan yang berusaha menutupi leher yang terbuka menyemburkan darah seperti luapan lava. Si penjaga berdiri menatap mata tak bernyawa si tawanan, sebelum keluar dari sel dan bergabung dengan penjaga lain dan pembunuh berharga mereka. Caelin sama sekali tidak berjengit atau pun berkedip ketika melihat pembantaian itu. Kematian tidak pernah gagal untuk menghiburnya.
“Satu tangan lagi menyentuh makhluk ini, akan aku koyak kalian sampai habis!” ancam si penjaga, kepada para tawanan di sel-sel yang telah mereka lewati. Tangan-tangan yang menggapai-gapai dari jeruji kemudian tertarik kembali, para tawanan masuk ke dalam kegelapan sel mereka. “Sampai kami selesai dengannya.” Senyum keji muncul kembali di wajah si penjaga. Dia seperti anjing ganas yang ingin mencabik mangsa. “Yeah, baru kemudian kalian boleh berbuat sepuasnya terhadapnya.”