Jumat, 14 Juli 2017

BABAD JAGAPRANA - BAB EMPAT

Induk semang pemilik rumah penginapan empat lantai dengan atap berbentuk kerucut itu sejak dahulu sudah dipanggil dengan sebutan ‘Induk Semang’ saja. Tidak ada yang tahu nama asli perempuan tua berambut putih digelung yang gemar mengunyah gumpalan daun berwarna merah.
Hari ini ia sudah mendepak tiga penginap yang telat membayar biaya sewa. Memang sulit untuk mendapatkan rumah tetap di bukit layang berkota Dulureksa ini. Sebab tanah terbatas dan bangunan sudah terlalu banyak berdiri berdempetan. Juragan-juragan licik telah menguasai bangunan dan lahan. Ketimpangan antara yang kaya dan miskin pun semakin curam.
Induk semang hadir sebagai juragan yang bersikap lain. Ia memang menguasai tiga bangunan dan dua lahan, namun ia juga mempekerjakan pemuda-pemuda kurang beruntung untuk menyemarakkan kegiatan bisnis hiburan di lantai bawah tanah. Induk semang mempunyai banyak tukang pukul, pramusaji, penari perut, tukang masak, tukang tagih, tukang reparasi, dan tukang-tukang lainnya. Ia pun secara adil memberi upah, dan memberi pelayanan yang baik bagi para tamu. Namun ingat, sekali saja kau menghindar dari kewajiban bayar, tukang pukul yang paling besar badannya akan menyeret dan menghabisimu. Tentu tidak sampai mati, karena pembunuhan adalah kejahatan paling keji yang akan mendapat hukuman lebih mengerikan dari kematian itu sendiri, di dunia Ardiprana.
Hari ini pun ia baru saja memotong tangan seorang bocah yang mencuri koin milik tamu rubanah hiburan. Hukum atas mencuri memang dipotong tangannya, dan induk semang telah mengantongi izin dari Gardaprana kota, dan pelaksanaan pemotongan tangan itu disaksikan oleh anggota Gardaprana, setelah bukti dipaparkan dengan sahih.

BABAD JAGAPRANA - BAB TIGA

Seandainya Rami Yoko menguasai energi prana, ia pasti dapat kabur dari situasi ini. Ia akan menghajar dua tukang pukul yang tak berhenti menempeleng wajahnya, setelah mereka memanggil tiga petugas Gardaprana kota. Sial. Sial. Punggungnya masih belum sembuh dari memar akibat benturan. Celekitnya tembus sampai ke paru-paru. Mau bangkit sedikit saja membuatnya jatuh tersungkur lagi. Karena itu ia diseret oleh dua tukang pukul yang bersiasat membuatnya makin sial. Sial. Sial. Mereka tahu ia bukan pembunuh Ronggo Lawu.
Tiga Gardaprana cepat sekali munculnya setelah dipanggil melalui tombol darurat di satu dinding bangunan. Tombol darurat itu biasanya berletak di sudut dengan bentuk kepala burung pengintai. Tarik saja ke bawah sampai kepala burung itu seolah mengangguk, sejurus kemudian Gardaprana muncul dengan mengendarai burung bulu emas berkaki empat yang dapat dilipat sampai seukuran kepalan tangan dan dapat dikantongi. Kendaraan ini dinamakan Jataryu, hasil kepandaian para Pranaguru istana.
“Ada kejahatan apa di sini?” tanya Gardaprana yang mengenakan pelindung kepala lempeng emas. Gardaprana yang demikian adalah ketua dari kelompok beranggotakan tiga yang bertugas di satu daerah. Dua anggota yang lain memakai pelindung kepala lempeng putih. Selain itu pakaian mereka sama dari torso sampai betis. Lempeng besi berukir lika-liku garis yang dapat mengalirkan energi prana lebih baik, menempel di kulit. Saat melontarkan pertanyaan utama penting itu mereka sudah mengantongi Jataryu.

BABAD JAGAPRANA - BAB DUA

Untuk bertahan hidup di jalanan Dulureksa, terutama bagi begundal macam Rami Yoko, usahakan jangan sampai tercekal petugas Gardaprana. Berurusan dengan Gardaprana gugus kota saja sudah merepotkan apalagi dengan Gardaprana gugus istana. Celakanya, setelah jadi bulan-bulanan oleh tukang pukul suruhan induk semang, Rami Yoko akan digiring menuju pos penyelidikan Gardaprana gugus istana.
Semua pun tahu, penghuni bukit layang satu sampai lima tahu betapa gigihnya para petugas Gardaprana dalam mengorek informasi. Mereka tidak akan puas walau kau telah terpaksa mengakui kejahatan, kau akan jadi dasar sumur kering yang digali paksa sampai mengucur air. Dalam hal ini, air yang dimaksud adalah darahmu sendiri. Gardaprana tidak main-main terhadap kriminal.
Kejahatan yang dianggap paling keji di dunia Ardiprana adalah pembunuhan. Untuk membuktikan itu Gardaprana akan berhati-hati, para tersangka akan dikorek sedalam-dalamnya dan ditelusuri semua bukti yang menyertai kejahatan itu. Mau salah atau tidak, jika kau dituduh membunuh, siap-siap badan memar ajur. Pembuktian kejahatan pembunuhan lebih lama dari kejahatan lain semacam mencuri atau memerkosa. Dan jika satu orang dicurigai membunuh, walaupun itu tidak benar, semua orang akan berubah pandangan terhadapnya. Semua orang akan ikut andil dalam penegakan hukum, mereka akan melaporkan keberadaanmu. Jika semua bukti terkumpul dan dicap sahih, pengakuan sudah dikantongi, tidak ada lagi keraguan atas kebenaran, tidak ada orang yang membela (dalam banyak kasus, orang-orang enggan membela), maka relakanlah kepala. Sebab ganjaran atas dosa membunuh adalah balas dibunuh. Pancung kepala.

Sabtu, 10 Juni 2017

BABAD JAGAPRANA - BAB SATU

Kota Dulureksa, kota besar di bukit layang nomor wahid dunia Ardiprana, memiliki tuan kota bernama Tuwan Ametung yang gemar menyaksikan pertarungan, hampir setiap minggu ia adakan acara gelut akbar di gelanggang rakyat. Ia mengundang para petarung energi prana untuk memperebutkan sejumlah emas. Acara gelut yang digelar bisa berbeda bentuk dan aturan, semua terserah Tuwan Ametung. Tuan kota satu ini memang selalu muncul dengan ide-ide baru untuk setiap acara. Apalagi semenjak dunia Ardiprana mendapatkan cahaya, yang menjadikan langit memiliki pergantian antara siang dan malam. Acara gelut bisa setiap hari diadakan berbarengan dengan perayaan persembahan kepada Pranadewa.
Pagi hari tadi, Tuwan Ametung melalui juru bicaranya mengumumkan di alun-alun, “Barangsiapa yang sanggup mencabut gelang emas dari hidung Kebo Ijo, silakan datang ke gelanggang rakyat dan tunjukkan kemampuan kalian, taklukkan si Kebo Ijo dan cabut gelang emas dari hidungnya, niscaya pemenangnya akan dilimpahi emas yang banyak.”
Rami Yoko adalah salah satu yang terjun ke gelanggang, ia turun dengan lompatan indah dari tribun penonton. Gerakannya seringan bulu, ia mendarat tanpa menyebabkan debu terbang. Rambut gondrongnya menyambut angin. Kakinya dilipat satu. Tangannya menyapa para penonton, terutama para gadis, ia mengumbar senyum. Para gadis kegirangan disapa. Peserta yang sudah hadir duluan membentuk baris lingkar di hadapan Kebo Ijo memandanginya tanpa henti, takjub. Bahkan si Kebo Ijo yang bertubuh besar kehijauan berkepala kerbau, berhenti mendengus hanya demi melihat Rami Yoko menantangnya.
Setelah terompet dibunyikan, semua petarung menyerbu Kebo Ijo, hanya Rami Yoko sendiri yang masih di tempat. Penonton menerka Rami Yoko sedang menghimpun siasat. Ia mengamati petarung berjatuhan dihantam tinju sekeras batu gunung Kebo Ijo. Ia lalu mengambil ancang-ancang, tangan menyentuh tanah, kepala menunduk, mata memejam hikmat menghimpun energi prana yang berasal dari tanah.  Para petarung yang terlalu bergesa-gesa sudah banyak yang tumbang, menyisakan Kebo Ijo dan Rami Yoko. Kebo Ijo mendengus menyaksikan ancang-ancang Rami Yoko yang dinilainya sedang mencemooh. Langkah berat dan dengusan amuk Kebo Ijo mengguncang tanah, ia bergerak menyerbu Rami Yoko yang masih bergeming. Tanduk Kebo Ijo sudah menyatakan Rami Yoko sebagai sasaran utama, ujung runcingnya siap merobek dada pemuda sialan itu. Namun energi prana yang berhasil diperoleh bogem Rami Yoko mengenai duluan congor si Kebo Ijo, menyebabkan hempasan energi yang menerbangkan debu dan mengibarkan rambut penonton. Kebo Ijo terkapar dan dengan mudahnya Rami Yoko mencabut gelang emas dari hidung siluman itu.

Sabtu, 03 Juni 2017

BABAD JAGAPRANA - MUKADIMAH

Yang dahulu penghuni dunia Ardiprana saksikan bukanlah ledakan. Bukanlah ledakan kalau tidak membuat segalanya luluh lantak. Cahaya yang amat terang benderang memang membutakan, maka dari itu mereka tak ingat apa yang terjadi dahulu. Serahkan saja semua itu kepada para cendekiawan untuk ditelaah. Terpenting, kejadian itu membuat dunia mereka berubah seketika. Perubahan yang membuat segalanya menjadi baik. Kepada Pranadewa mereka bersyukur.
Bila dahulu mereka menghabiskan riwayat dengan kegelapan, lembaran cahaya hijau di langit sebagai penanda waktu, kini mereka dapat merasakan apa itu siang dan apa itu malam. Mereka dapat melihat bintang-bintang membentuk konstelasi, mereka dapat menunjuk komet yang lewat, dan mereka akan sembunyi ketika gerhana menjelang—suara kentongan akan dibunyikan semeriah pesta demi menghalau mitos raksasa menelan bulan. Ilmu pengetahuan mereka pun meningkat pesat karena makin banyak yang harus digali. Gairah yang membuat para cendekiawan yang disebut Pranaguru sampai botak.
Dunia Ardiprana adalah dunia melayang di atas lautan biru kelam yang airnya tenang tak bergejolak. Dunia Ardiprana terdiri dari enam bongkahan batu besar. Satu lebih besar dari lima yang lain, tempat para golongan berdarah raja tinggal, serta menjadi pusat dunia Ardiprana itu sendiri. Ukurannya sebesar lima yang lain bila digabungkan. Bentuknya bukit yang menjulang dan meruncing di puncak, mereka melayang dengan air terjun sebagai jangkar yang menghubung ke lautan, yang mengalir dari sungai-sungai yang menjadi urat kehidupan bukit-bukit melayang itu. Secara ajaib, air lautan berubah jadi air kehidupan yang menderas dari puncak bukit, tanpa diketahui dari mana hulunya. Masing-masing bukit melayang tersambung dengan banyak jembatan tali kokoh tak tergoncang angin. Segala hal ajaib dengan mudah Pranaguru jelaskan sebagai energi luhur alam semesta, yang menjadikan segalanya mungkin. Kepada Pranadewa mereka bersyukur.
Penghuni dunia Ardiprana, semenjak peradabannya bermula, sudah menggilai ilmu tenaga dalam atau yang mereka sebut dengan prana. Sebuah kekuatan atau energi murni yang tercipta dari olah tubuh dan alam. Mereka yakini, melayangnya bukit-bukit dan tenangnya lautan biru kelam adalah tak lain karena energi prana alam yang mereka tinggali. Energi luhur yang mereka yakini berasal dari Pranadewa, Penguasa Alam yang mereka sembahyangi. Lebih-lebih, energi prana itu diyakini sebagai napas sang dewa itu sendiri. Sebab keajaiban yang membuat langit mereka jadi biru cerah serta ada benda bulat bercahaya yang menggantung di angkasa dan selalu mengitari dunia Ardiprana, lebih-lebih lagi mereka mengagungkan Pranadewa junjungan.
Meski begitu, laku untuk meraih tenaga prana tidaklah mudah. Ada rukun-rukun yang wajib dijalani, tak sedikit dari mereka yang ingin menekuninya sudah putus bahkan sebelum rukun pertama dijalani. Tenaga prana baru akan mengaliri pembuluh darah dan menguatkan otot-otot apabila si pelakon secara tekun dan teguh menjalani serta sadar akan keberadaan napas Pranadewa di udara. Maka bagi mereka yang gagal melakoni, seringkali beranggapan bahwa tenaga prana hanya mau mendarat di orang yang terpilih. Pranaguru tidak bosan menyangkal anggapan demikian. Tenaga prana bisa diraih siapa pun, asal tidak putus asa. Sebab napas Pranadewa hadir di udara yang mereka hirup, menanti untuk disalurkan masuk ke pembuluh darah, menjadi energi murni pendongkrak kekuatan.
       Para pelakon tenaga prana yang berhasil, direkrut menjadi satuan tugas beranggotakan lima. Tugas mereka adalah untuk menghalau kekuatan lintas dimensi yang kadang kala mampir ke dunia Ardiprana untuk mengacau. Di waktu-waktu mendekati kejadian cahaya membutakan, memang sedang ada kekuatan tak kasat mata yang membuat kewalahan satuan tugas. Akibat cahaya membutakan itu, hadirlah energi prana baru yang dapat diserap oleh satuan tugas dan memungkinkan mereka berhasil memukul mundur kekuatan pengacau itu. Satuan tugas ini dinamakan Jagaprana. Dalam Babad Jagaprana ini, era baru Jagaprana dimulai.



--ini adalah pembukaan untuk novel fiksi klenik berikutnya--
--sebagai pengganti seri Remy Yorke yang gagal itu--
--semoga versi baru ini akan jadi versi yang lebih baik--
--fyi, kisahnya dimulai tepat setelah kejadian di novela Astacakra, satu semesta beda dunia--

Sabtu, 20 Mei 2017

LIDAH LEGENDARIS


Kang Ilat mendatangi rumah Nyi Kondang bukan untuk memuaskan batang kemaluannya, sebaliknya ia ingin memuaskan Nyi Kondang. Kegiatannya menyelinap malam-malam ke rumah Nyi Kondang harusnya adalah perbuatan terlarang. Nyi Kondang memang tengah ambil libur dari pekerjaan hiburan di lokalisasi, tapi itu bukan berarti Nyi Kondang mau menerima tamu. Kalau saja Nyi Kondang tidak mau mendengarkan tawaran Kang Ilat, ia pasti sudah memanggil tukang gebuk lokalisasi untuk menghabisi Kang Ilat yang tak diundang tapi datang ini. Tawaran Kang Ilat menarik untuk diterima.
“Meski kelaminku sudah tidak berfungsi, tapi aku telah menemukan cara menyalurkan energi syahwat ke lidahku. Aku telah berlatih. Lidah memang tak bertulang, sama halnya dengan pelir.”
“Pelir dan lidah itu tak sama, Kang.”
“Itulah. Nyi Kondang sudah terlampau banyak menerima yang sama. Percayalah, lidahku dapat sekeras linggis, atau terong, sesuka Nyi saja. Aku dapat mengaturnya. Bila Nyi Kondang menghendaki getaran yang niscaya bikin Nyi Kondang serasa dilanda gempa surgawi, aku dapat menyajikannya.”
“Tawaranmu lucu dan tak masuk akal. Mana bisa lidah menyamai khasiat pelir?”
“Dunia kalau isinya hal-hal yang masuk akal, niscaya jadi membosankan Nyi. Hal-hal tak masuk akal memang perlu untuk bikin suasana gembira. Lidahku akan membuat Nyi Kondang gembira, percayalah. Nyi akan merasakan surga yang lain di bumi.”
“Perkataanmu bisa diterima.” Nyi Kondang tahu mengenai Kang Ilat yang pelirnya sudah tidak bisa berdiri lagi. Menurut rumor yang beredar, pelir Kang Ilat disentil jin masjid, itu terjadi ketika Kang Ilat pipis di toilet masjid tapi tidak disiram.
“Untuk bahan pembantu pertimbangan Nyi Kondang, aku telah siapkan uang sepuluh juta. Nyi Kondang tak perlu melayaniku, biarlah satu malam ini aku buat Nyi Kondang melayang menuju kahyangan. Lidahku sebagai kendaraan menuju ke sana.”
“Kata-katamu manis sekali. Baiklah, akan kuturuti permintaanmu.”
Luar biasa. Lidah Kang Ilat beraksi melebihi pelir yang paling perkasa pun. Entah sihir apa yang Kang Ilat pelajari, lidahnya dapat memanjang dan mengeras selayaknya pelir lelaki kena berahi. Untuk pertama kalinya, Nyi Kondang terpuaskan, sangat terpuaskan, sangat amat terpuaskan dengan sesuatu yang bukan pelir. Malahan, sejujurnya, pelir-pelir yang suka mendatanginya jarang sekali yang mampu memberi kenikmatan seperti ini. Kenikmatan yang tak egois. Pelir-pelir yang suka mendatanginya kebanyakan berperangai egois hanya mementingkan kenikmatan sendiri.
“Kang Ilat, kau hebat sekali. Lidahmu hebat sekali. Aku sangat terpuaskan. Untuk itu, simpan saja uangmu. Ini adalah malam libur yang sangat menyenangkan. Maaf jika aku tidak melayanimu, kepuasan malam ini hanya milikku.”
“Tidak mengapa Nyi Kondang. Seperti yang sudah kukatakan di awal. Syahwat pelirku sudah kusalurkan ke lidah. Jadi aku dapat menikmati dengan lidahku. Apalagi jika melihat Nyi Kondang menggeliat keenakan, itu tambah membuatku jadi nikmat.”
“Terima kasih. Ingat lho, ini jarang-jarang kuucapkan kepada pelanggan.”
“Aku yang berterima kasih Nyi Kondang. Jadi, Nyi sudah percaya?”
Sebagai jawabannya, Nyi Kondang memutuskan untuk berhenti melacur di lokalisasi. Bersama Kang Ilat ia membina rumah tangga, yang hanya sebagai kedok, sesungguhnya Nyi Kondang melihat peluang lain. Bersama Kang Ilat ia membuka praktek baru bertajuk Lidah Legendaris di rumah yang dibelinya. Kang Ilat menerima ide itu dengan senang hati. Ia ingin membuktikan lidah pun dapat memuaskan lebih daripada pelir yang paling perkasa pun.
Rumah Nyi Kondang ramai didatangi perempuan-perempuan kesepian yang ditinggal suami bertugas atau pun melaut. Pundi-pundi uang semakin membuncit. Lidah Kang Ilat semakin terlatih dan memiliki jurus-jurus baru.
Sampai ada ketukan di suatu pagi.
Pak RT datang bawa polisi, mereka diseret dari kamar mandi. Pasangan itu ditangkap karena menimbulkan keresahan desa. Mereka dinyatakan menista tata krama desa dengan membuat praktek zina di rumah.
        Di penjara, Kang Ilat justru dipaksa membuktikan kelegendarisan lidahnya itu.

Jumat, 19 Mei 2017

PELITA KASIH


Keduanya telah saling jatuh cinta ketika pertama kali dijejerkan berdua di atas lantai. Api yang menyala di sumbu kepala mereka bergoyang malu-malu untuk saling berkenalan. Dalam suasana sendu rintik gerimis mengguyur bumi, dua manusia menghangatkan diri berdekatan juga demi penerangan. Kala itu desa mereka kena pemadaman bergilir. Pelita dari dua batang lilin tidak dapat mengusir keresahan pasangan yang baru menikah itu. Sepasang lilin tahu mengenai perasaan manusia, apalagi yang dilanda kesusahan, getar-getar emosi dapat merambat di udara. Pelita dari dua lilin jadi ikut sedih, mereka menunjukkannya dengan gejolak api yang meredup.
Keduanya menjadi saksi bisu dua pasangan manusia yang melakukan segala upaya untuk menjadikan hidup mereka lebih berarti. Keduanya terharu dan kadang juga gemetar ketakutan, kalau saja lilin dapat bergetar takut, saat sepasang manusia itu bertengkar. Namun akhirnya pelita mereka dapat menenangkan pasang manusia itu. Lagi-lagi listrik padam. Di saat-saat seperti itu, keduanya merasa hidup, sebab api kehidupan yang dinyalakan, menambah semangat pelita. Dengan hangat dan kepala api yang dapat membesar, mereka mengirimkan kehangatan kasih kepada sepasang manusia itu.
Keduanya terpisahkan jarak. Walaupun hanya lima atau sepuluh senti. Tetap saja terpisah. Cinta keduanya semakin berkembang, apalagi kalau dinyalakan bersama-sama. Pelita mereka akan saling berbincang dengan bahasa api. Keduanya tentram mengetahui bahwa panjang tubuh mereka selalu sama. Mereka jadi sayang terhadap sepasang manusia yang telah menyalakan pelita kasih di sumbu kepala mereka. Sebab tanpa bantuan tangan manusia, mereka tak akan bisa saling mengenal. Mereka tidak akan hidup tanpa pelita yang menyala. Pelita adalah jiwa keduanya. Keduanya senang dapat memancarkan kasih dari pelita kepada pasang manusia itu. Dengkuran pasang manusia yang saling tidur berpelukan, di lantai, di atas kasur lipat.
Keduanya tambah gembira. Di rumah yang selalu padam listrik dan bolong-bolong atapnya itu kini diramaikan oleh tangis bayi. Tangis kehidupan yang membuat pelita keduanya semakin membesar menerangi rumah petakan. Keduanya adalah lilin yang istimewa, yang lama tak kunjung habis. Mereka saling mencinta walau jarak memisahkan.
Suatu waktu, salah satu dari keduanya berjanji bahwa suatu saat nanti mereka akan bersama, walau kedengarannya tak mungkin. Sebab jarak mereka masih segitu-gitu saja. Salah satu dari keduanya percaya mereka nanti akan melebur dan memancarkan pelita yang bersatu. Alangkah tak disangka oleh mereka bahwa jalinan cinta mereka terwujud oleh campur tangan anak sepasang manusia. Keluarga kecil itu hendak pergi selama beberapa hari. Si anak kecil yang selalu mengamati dansa api lilin saat mati lampu, menyalakan keduanya di jam-jam menjelang keberangkatan. Keduanya percaya sebentar lagi mereka akan bersatu dalam cinta dan kasih. Untuk bersatu, nyala pelita mereka harus bertahan lama. Untuk perlahan-lahan mencairkan tubuh mereka, sebagai perandaian tangan yang saling meraih satu sama lain. Si anak kecil keburu pergi dan membiarkan keduanya tetap menyala. Pintu dan jendela dikunci, listrik sengaja diturunkan, keluarga kecil itu pun pergi.
Cinta kasih sepasang lilin akhirnya menyatu. Cinta mereka hangat dan kian menggelora seiring tubuh mereka meleleh dan bersentuhan, lalu melebur bersama. Gairah mereka panas, sepanas api membara yang melahap rumah keluarga kecil itu.






dalam rangka tantangan #NulisKilat Storial