Jumat, 19 Januari 2018

MENULIS BIAR JADI MANUSIA

Demi menjadi manusia, kamu ingin menulis. Itu kamu katakan saat pertama kali kamu jumpa denganku selepas aku membacakan cerita pendekku yang lucu dan penuh interpretasi tentang kelamin manusia. Kamu tertarik dengan cerita. Kamu ingin bercerita, kamu ingin menulis. Ciri khas manusia adalah bercerita, katamu.

Kamu bilang kamu belum merasa jadi manusia utuh apabila belum menuliskan cerita. Cerita tentang kehidupan manusia. Aku bertanya, bukannya kamu sekarang ini manusia? Kamu menjawab, aku memang manusia, tapi dengan menulis aku akan jadi lebih dari manusia biasa. Manusia biasa tidak menulis, katamu. Aku bilang padamu, penulis adalah manusia biasa. Kamu menolak ide itu. Penulis tentu bukan manusia biasa, katamu. Itu didukung dengan emakmu yang manusia biasa, tidak menulis. Kamu ingin jadi lebih dari manusia. Kamu ingin bercerita tentang manusia. Kamu ingin menulis tentang kemanusiaan. Maka, katamu, untuk melakukan itu, kamu ingin jadi lebih dari manusia dulu. Aku bingung, katamu tadi dengan menulis kamu akan jadi lebih dari manusia. Jadi mana yang lebih dulu? Menjadi lebih dari manusia apa menulis? Kamu mengabaikan pertanyaanku.
Aku pusing dengan perkataanmu yang tak jelas juntrungannya. Aku jelaskan padamu, kalau ingin menulis ya menulis sajalah. Kamu menolak ide itu. Katamu, kamu ingin memperdalam pengalaman menjadi lebih dari manusia. Kamu ingin berkelana ke tempat-tempat penuh celaka. Tempat di mana orang-orang malang hidup beranak pinak. Aku bilang, kamu bisa melakukannya tanpa melakukan itu semua. Kamu bisa melakukannya dengan banyak membaca. Kamu menolak ide itu. Kamu bilang pengalaman yang didapat dari membaca tentu berbeda dengan pengalaman yang didapat secara langsung. Aku bilang, terserah kamu sajalah. Kamu meminta nomorku. Aku berikan.

Aku memang tidak begitu pengin menunggumu menghubungiku. Tapi dulu waktu pertama bertemu kamu bilang ingin dibimbing dalam menulis buku. Sebenarnya aku mau saja, tapi itu tergantung kamu. Akhirnya, setelah berminggu-minggu berlalu, kamu baru menghubungiku. Kamu kembali lagi dengan pertanyaan pertamamu, bagaimana memulai menulis. Katamu, kamu sudah punya cukup bahan untuk menulis tentang manusia. Kamu selama berminggu-minggu itu, sudah numpang hidup di rumah kardus anak jalanan. Kamu bercerita banyak padaku. Kamu ingin menulisnya, tapi kamu ingin cerita dulu kepadaku. Aku manggut-manggut saja mendengar ceritamu tentang seorang gadis jalanan yang sudah bunting tiga kali dan gugur tiga kali. Di situ justru aku yang mendapat ide dan gagasan untuk menulis kisah kemanusiaan dari ceritamu. Sementara kamu masih berpanjang-panjang ria dalam bercerita pengalamanmu. Ketika aku bertanya, sudahkah kamu menuliskannya? Kamu bilang, sudah sedikit-sedikit. Lebih banyak ditulis di kepala, katamu. Aku minta tulisanmu yang sedikit-sedikit itu untuk kubaca, kamu menunjukkannya. Kamu menuliskan cerita yang sedikit-sedikit itu di kertas-kertas bon parkir swalayan. Katamu kamu sempat mengalami jadi tukang parkir, mengikuti kegiatan salah satu anak jalanan. Aku baca tulisanmu itu dan kukatakan padamu, aku seperti membaca tulisan anak SD yang baru belajar bercerita. Kamu memang tidak tersinggung. Kamu menyanggah, manusia memang memerlukan perkembangan. Aku maklumi sajalah itu. Lalu aku bertanya padamu lagi, sudahkah kamu membaca buku? Kamu jawab, belum, belum ada waktu. Dari situ aku sudah melihat, kamu memang tidak serius ingin menulis. Kamu tidak serius untuk jadi lebih dari manusia. Tapi itu kusimpan saja dalam hati.

Jumat, 20 Oktober 2017

CARA MENYAJIKAN DENDAM


Hasrat membunuh muncul dengan picuan tertentu. Semisal, fitnah. Di mimpi dan imajinasinya, Bandot telah membunuh berkali-kali satu orang yang amat dibencinya itu. Seorang pengurus suatu yayasan, sebut saja orang itu Sengkuni. Sebab ia suka sekali membisiki bos-bos berdompet tebal di pucuk kekuasaan, menampilkan diri sebagai yang terbaik dan paling suci dan paling moralis.
Sebelum Bandot jadi korban fitnah yang tidak diberi kesempatan penjelasan dua sisi, ia telah menyaksikan sendiri bagaimana si Sengkuni memperlakukan orang-orang yang berada di bawah telapak kakinya. Sengkuni, sebenarnya bukan siapa-siapa. Namun karena kerajinan menjilat dengan bahasa manis ke bos-bos berkedudukan, ia melesat dan dipercayai memegang sebuah yayasan. Bandot, merasakan pedihnya, sedihnya orang-orang yang dianiaya secara batin oleh Sengkuni.
Yang pertama, anak asrama yang ketahuan bekerja di luar. Sengkuni mengusirnya. Alasannya, di asrama sudah diberi fasilitas uang saku dan sebagainya. Pengusiran itu secara sepihak dan tidak mau mendengarkan dulu latar belakang mengapa si anak bekerja diam-diam di luar sepengetahuan pengurus. Anak yang bekerja itu, tentu saja lebih memilih keluar dari asrama, daripada terus mendekam dengan hati yang tersakiti akibat ditindas oleh orang yang mengaku menjadi pengurus yayasan asrama, tapi sedikit pun tak memiliki hati untuk mengayomi selayaknya sosok bapak pengganti. Ya, lebih baik pergi.

Rabu, 18 Oktober 2017

LONCENG YANG BERBUNYI SENDIRI

Penduduk lereng gunung Matasayu selama berminggu-minggu diteror oleh bunyi lonceng di gunung yang sedang ditinggal juru kuncinya untuk dicarikan juru kunci yang baru, sebab si juru kunci tua sudah merasakan ajal mau mengetuk rumahnya suatu malam nanti. Penduduk tak ada yang berani mendatangi menara tempat lonceng itu berada. Terutama karena gunung itu terkenal angkernya. Banyak saksi mata yang melihat kemunculan macan putih atau alap-alap merah di hutan yang mengelilingi menara tua peninggalan nenek moyang itu. Bunyi lonceng itu berbunyi tak henti pada tiga minggu sebelumnya, disusul oleh suara lolongan yang mengelus bulu kuduk. Memang pada saat itu, terjadi hujan badai dahsyat. Petir menyambar begitu terang dan menggelegarnya ke gunung Matasayu. Banyak yang mengira, ada roh gentayangan yang riang gembira karena juru kunci sedang pergi. Keberadaan juru kunci memang untuk menahan kekuatan-kekuatan gaib memasuki permukiman penduduk. Makin-makinlah, dengan isu yang demikian itu, penduduk mati nyali untuk memeriksa lonceng tua itu.
“Juru kunci kapan kembalinya, ya?” seorang penduduk bertanya-tanya dan berharap.
“Kau kira mencari pengganti juru kunci gunung Matasayu mudah?”
“Mengapa dia tidak mencari anak muda dari desa saja?”
“Ya karena tidak ada yang layak menurutnya. Pekerjaan menjaga gunung itu bebannya seberat gunung itu sendiri.”
“Walah, gila.”

DIBUNUH OLEH WAKTU

Bila diberi waktu, manfaatkan dengan baik, ngek. Jangan seperti si Damput yang bilangnya ingin menulis buku tapi lebih sering bilang, “Belum ketemu waktunya.” Si Damput ini, ngek, nasibnya tragis. Tragis yang tidak melibatkan darah, ngek. Dia dibunuh dengan kejam oleh si waktu. Dia termakan sendiri oleh ucapannya, ketika bapaknya yang tak sabar ingin membaca karya anaknya, menanyai kabar tulisannya, si Damput menjawab, ngek, “Nanti pak, tulisannya sudah ada di kepala. Tinggal dituangkan. Masalahnya, waktunya belum ketemu, aku sibuk. Coba kalau aku diberi waktu yang panjaaaang, aku pasti bisa selesaikan.”
Bapaknya kemudian berdoa di depan patung berpenis besar sembari mengisap rokok bergantian dengan mulut dower si patung, “beri anakku waktu yang panjang, Tuan.”

Selasa, 10 Oktober 2017

ALIH RUPA JAHANAM

Selamat datang di eranya para pemfitnah. Di era ini banyak orang dengan mudah mendulang ketenaran. Silakan saja merekam video sensasi kontroversial, jari-jari manusia akan melancarkan aksimu itu ke saluran dunia maya. Di era ini orang suka mencampuri urusan orang lain dan bawel tak tahu batas. Sok benar dan paling suci. Padahal disodori video rekaman orang bugil, lebih cepat dari kilat, mereka akan membagikannya ke sejawat.
Tapi yang namanya tenar dengan cepat, akan terlupakan dengan cepat pula. Makanya pintar-pintarlah bikin sensasi. Kalau memang itu tujuanmu, sensasi bisa membuatmu tenar, tenar bisa membuatmu tajir mendadak.
Di jaman ini bukan saja selebritas berhak tenar, orang-orang biasa pun bisa melejit jadi selebritas dalam cara pintas. Ciptakanlah sensasi. Sensasi itu bisa yang bersifat positif juga bisa negatif. Mau lebih cepat tenar, pilih yang negatif.
Salah satu yang ditimpa ketenaran adalah ia yang bernama Titi Kemayu. Ia peraih tenar pintas karena seorang iseng merekamnya sedang menari dengan baju minim di atas jembatan titian yang sudah lama tak dilalui orang. Di atas sungai keruh di kala hujan. Awalnya ia malu setengah mati dan sempat tak keluar rumah berminggu-minggu. Sampai orangtuanya menyemangatinya bahwa ketenaran yang diperolehnya bisa jadi berkah sekeluarga, sebab pada saat itu keluarganya lagi melarat. Media sudah heboh dan menayangkan aksi joget titian berulang-ulang, juga telah dibincangkan di acara-acara talkshow, warganet heboh dan penasaran dengan jati diri si penjoget titian, video rekaman joget titian di bawah hujan sudah ditonton berjuta kali. Penelusuran ekstrim dilakukan oleh pemburu berita sensasi, mereka ingin mengangkat si penjoget titian. Satu awak media telah berhasil mengantongi alamat si penjoget titian, namun ada oknum yang tergiur uang sampingan, alamat itu bocor ke media lain. Akibatnya, rumah penjoget titian ramai dikepung awak media. Bujukan manis mereka sampaikan kepada orang tuanya. Remaja-remaja sekitar yang penasaran mengapa banyak awak media, mulai beraksi dengan beratraksi yang aneh-aneh, tapi tentu saja, diabaikan.

Jumat, 14 Juli 2017

BABAD JAGAPRANA - BAB EMPAT

Induk semang pemilik rumah penginapan empat lantai dengan atap berbentuk kerucut itu sejak dahulu sudah dipanggil dengan sebutan ‘Induk Semang’ saja. Tidak ada yang tahu nama asli perempuan tua berambut putih digelung yang gemar mengunyah gumpalan daun berwarna merah.
Hari ini ia sudah mendepak tiga penginap yang telat membayar biaya sewa. Memang sulit untuk mendapatkan rumah tetap di bukit layang berkota Dulureksa ini. Sebab tanah terbatas dan bangunan sudah terlalu banyak berdiri berdempetan. Juragan-juragan licik telah menguasai bangunan dan lahan. Ketimpangan antara yang kaya dan miskin pun semakin curam.
Induk semang hadir sebagai juragan yang bersikap lain. Ia memang menguasai tiga bangunan dan dua lahan, namun ia juga mempekerjakan pemuda-pemuda kurang beruntung untuk menyemarakkan kegiatan bisnis hiburan di lantai bawah tanah. Induk semang mempunyai banyak tukang pukul, pramusaji, penari perut, tukang masak, tukang tagih, tukang reparasi, dan tukang-tukang lainnya. Ia pun secara adil memberi upah, dan memberi pelayanan yang baik bagi para tamu. Namun ingat, sekali saja kau menghindar dari kewajiban bayar, tukang pukul yang paling besar badannya akan menyeret dan menghabisimu. Tentu tidak sampai mati, karena pembunuhan adalah kejahatan paling keji yang akan mendapat hukuman lebih mengerikan dari kematian itu sendiri, di dunia Ardiprana.
Hari ini pun ia baru saja memotong tangan seorang bocah yang mencuri koin milik tamu rubanah hiburan. Hukum atas mencuri memang dipotong tangannya, dan induk semang telah mengantongi izin dari Gardaprana kota, dan pelaksanaan pemotongan tangan itu disaksikan oleh anggota Gardaprana, setelah bukti dipaparkan dengan sahih.

BABAD JAGAPRANA - BAB TIGA

Seandainya Rami Yoko menguasai energi prana, ia pasti dapat kabur dari situasi ini. Ia akan menghajar dua tukang pukul yang tak berhenti menempeleng wajahnya, setelah mereka memanggil tiga petugas Gardaprana kota. Sial. Sial. Punggungnya masih belum sembuh dari memar akibat benturan. Celekitnya tembus sampai ke paru-paru. Mau bangkit sedikit saja membuatnya jatuh tersungkur lagi. Karena itu ia diseret oleh dua tukang pukul yang bersiasat membuatnya makin sial. Sial. Sial. Mereka tahu ia bukan pembunuh Ronggo Lawu.
Tiga Gardaprana cepat sekali munculnya setelah dipanggil melalui tombol darurat di satu dinding bangunan. Tombol darurat itu biasanya berletak di sudut dengan bentuk kepala burung pengintai. Tarik saja ke bawah sampai kepala burung itu seolah mengangguk, sejurus kemudian Gardaprana muncul dengan mengendarai burung bulu emas berkaki empat yang dapat dilipat sampai seukuran kepalan tangan dan dapat dikantongi. Kendaraan ini dinamakan Jataryu, hasil kepandaian para Pranaguru istana.
“Ada kejahatan apa di sini?” tanya Gardaprana yang mengenakan pelindung kepala lempeng emas. Gardaprana yang demikian adalah ketua dari kelompok beranggotakan tiga yang bertugas di satu daerah. Dua anggota yang lain memakai pelindung kepala lempeng putih. Selain itu pakaian mereka sama dari torso sampai betis. Lempeng besi berukir lika-liku garis yang dapat mengalirkan energi prana lebih baik, menempel di kulit. Saat melontarkan pertanyaan utama penting itu mereka sudah mengantongi Jataryu.