Sabtu, 10 Juni 2017

BABAD JAGAPRANA - BAB SATU

Kota Dulureksa, kota besar di bukit layang nomor wahid dunia Ardiprana, memiliki tuan kota bernama Tuwan Ametung yang gemar menyaksikan pertarungan, hampir setiap minggu ia adakan acara gelut akbar di gelanggang rakyat. Ia mengundang para petarung energi prana untuk memperebutkan sejumlah emas. Acara gelut yang digelar bisa berbeda bentuk dan aturan, semua terserah Tuwan Ametung. Tuan kota satu ini memang selalu muncul dengan ide-ide baru untuk setiap acara. Apalagi semenjak dunia Ardiprana mendapatkan cahaya, yang menjadikan langit memiliki pergantian antara siang dan malam. Acara gelut bisa setiap hari diadakan berbarengan dengan perayaan persembahan kepada Pranadewa.
Pagi hari tadi, Tuwan Ametung melalui juru bicaranya mengumumkan di alun-alun, “Barangsiapa yang sanggup mencabut gelang emas dari hidung Kebo Ijo, silakan datang ke gelanggang rakyat dan tunjukkan kemampuan kalian, taklukkan si Kebo Ijo dan cabut gelang emas dari hidungnya, niscaya pemenangnya akan dilimpahi emas yang banyak.”
Rami Yoko adalah salah satu yang terjun ke gelanggang, ia turun dengan lompatan indah dari tribun penonton. Gerakannya seringan bulu, ia mendarat tanpa menyebabkan debu terbang. Rambut gondrongnya menyambut angin. Kakinya dilipat satu. Tangannya menyapa para penonton, terutama para gadis, ia mengumbar senyum. Para gadis kegirangan disapa. Peserta yang sudah hadir duluan membentuk baris lingkar di hadapan Kebo Ijo memandanginya tanpa henti, takjub. Bahkan si Kebo Ijo yang bertubuh besar kehijauan berkepala kerbau, berhenti mendengus hanya demi melihat Rami Yoko menantangnya.
Setelah terompet dibunyikan, semua petarung menyerbu Kebo Ijo, hanya Rami Yoko sendiri yang masih di tempat. Penonton menerka Rami Yoko sedang menghimpun siasat. Ia mengamati petarung berjatuhan dihantam tinju sekeras batu gunung Kebo Ijo. Ia lalu mengambil ancang-ancang, tangan menyentuh tanah, kepala menunduk, mata memejam hikmat menghimpun energi prana yang berasal dari tanah.  Para petarung yang terlalu bergesa-gesa sudah banyak yang tumbang, menyisakan Kebo Ijo dan Rami Yoko. Kebo Ijo mendengus menyaksikan ancang-ancang Rami Yoko yang dinilainya sedang mencemooh. Langkah berat dan dengusan amuk Kebo Ijo mengguncang tanah, ia bergerak menyerbu Rami Yoko yang masih bergeming. Tanduk Kebo Ijo sudah menyatakan Rami Yoko sebagai sasaran utama, ujung runcingnya siap merobek dada pemuda sialan itu. Namun energi prana yang berhasil diperoleh bogem Rami Yoko mengenai duluan congor si Kebo Ijo, menyebabkan hempasan energi yang menerbangkan debu dan mengibarkan rambut penonton. Kebo Ijo terkapar dan dengan mudahnya Rami Yoko mencabut gelang emas dari hidung siluman itu.

Sabtu, 03 Juni 2017

BABAD JAGAPRANA - MUKADIMAH

Yang dahulu penghuni dunia Ardiprana saksikan bukanlah ledakan. Bukanlah ledakan kalau tidak membuat segalanya luluh lantak. Cahaya yang amat terang benderang memang membutakan, maka dari itu mereka tak ingat apa yang terjadi dahulu. Serahkan saja semua itu kepada para cendekiawan untuk ditelaah. Terpenting, kejadian itu membuat dunia mereka berubah seketika. Perubahan yang membuat segalanya menjadi baik. Kepada Pranadewa mereka bersyukur.
Bila dahulu mereka menghabiskan riwayat dengan kegelapan, lembaran cahaya hijau di langit sebagai penanda waktu, kini mereka dapat merasakan apa itu siang dan apa itu malam. Mereka dapat melihat bintang-bintang membentuk konstelasi, mereka dapat menunjuk komet yang lewat, dan mereka akan sembunyi ketika gerhana menjelang—suara kentongan akan dibunyikan semeriah pesta demi menghalau mitos raksasa menelan bulan. Ilmu pengetahuan mereka pun meningkat pesat karena makin banyak yang harus digali. Gairah yang membuat para cendekiawan yang disebut Pranaguru sampai botak.
Dunia Ardiprana adalah dunia melayang di atas lautan biru kelam yang airnya tenang tak bergejolak. Dunia Ardiprana terdiri dari enam bongkahan batu besar. Satu lebih besar dari lima yang lain, tempat para golongan berdarah raja tinggal, serta menjadi pusat dunia Ardiprana itu sendiri. Ukurannya sebesar lima yang lain bila digabungkan. Bentuknya bukit yang menjulang dan meruncing di puncak, mereka melayang dengan air terjun sebagai jangkar yang menghubung ke lautan, yang mengalir dari sungai-sungai yang menjadi urat kehidupan bukit-bukit melayang itu. Secara ajaib, air lautan berubah jadi air kehidupan yang menderas dari puncak bukit, tanpa diketahui dari mana hulunya. Masing-masing bukit melayang tersambung dengan banyak jembatan tali kokoh tak tergoncang angin. Segala hal ajaib dengan mudah Pranaguru jelaskan sebagai energi luhur alam semesta, yang menjadikan segalanya mungkin. Kepada Pranadewa mereka bersyukur.
Penghuni dunia Ardiprana, semenjak peradabannya bermula, sudah menggilai ilmu tenaga dalam atau yang mereka sebut dengan prana. Sebuah kekuatan atau energi murni yang tercipta dari olah tubuh dan alam. Mereka yakini, melayangnya bukit-bukit dan tenangnya lautan biru kelam adalah tak lain karena energi prana alam yang mereka tinggali. Energi luhur yang mereka yakini berasal dari Pranadewa, Penguasa Alam yang mereka sembahyangi. Lebih-lebih, energi prana itu diyakini sebagai napas sang dewa itu sendiri. Sebab keajaiban yang membuat langit mereka jadi biru cerah serta ada benda bulat bercahaya yang menggantung di angkasa dan selalu mengitari dunia Ardiprana, lebih-lebih lagi mereka mengagungkan Pranadewa junjungan.
Meski begitu, laku untuk meraih tenaga prana tidaklah mudah. Ada rukun-rukun yang wajib dijalani, tak sedikit dari mereka yang ingin menekuninya sudah putus bahkan sebelum rukun pertama dijalani. Tenaga prana baru akan mengaliri pembuluh darah dan menguatkan otot-otot apabila si pelakon secara tekun dan teguh menjalani serta sadar akan keberadaan napas Pranadewa di udara. Maka bagi mereka yang gagal melakoni, seringkali beranggapan bahwa tenaga prana hanya mau mendarat di orang yang terpilih. Pranaguru tidak bosan menyangkal anggapan demikian. Tenaga prana bisa diraih siapa pun, asal tidak putus asa. Sebab napas Pranadewa hadir di udara yang mereka hirup, menanti untuk disalurkan masuk ke pembuluh darah, menjadi energi murni pendongkrak kekuatan.
       Para pelakon tenaga prana yang berhasil, direkrut menjadi satuan tugas beranggotakan lima. Tugas mereka adalah untuk menghalau kekuatan lintas dimensi yang kadang kala mampir ke dunia Ardiprana untuk mengacau. Di waktu-waktu mendekati kejadian cahaya membutakan, memang sedang ada kekuatan tak kasat mata yang membuat kewalahan satuan tugas. Akibat cahaya membutakan itu, hadirlah energi prana baru yang dapat diserap oleh satuan tugas dan memungkinkan mereka berhasil memukul mundur kekuatan pengacau itu. Satuan tugas ini dinamakan Jagaprana. Dalam Babad Jagaprana ini, era baru Jagaprana dimulai.



--ini adalah pembukaan untuk novel fiksi klenik berikutnya--
--sebagai pengganti seri Remy Yorke yang gagal itu--
--semoga versi baru ini akan jadi versi yang lebih baik--
--fyi, kisahnya dimulai tepat setelah kejadian di novela Astacakra, satu semesta beda dunia--

Sabtu, 20 Mei 2017

LIDAH LEGENDARIS


Kang Ilat mendatangi rumah Nyi Kondang bukan untuk memuaskan batang kemaluannya, sebaliknya ia ingin memuaskan Nyi Kondang. Kegiatannya menyelinap malam-malam ke rumah Nyi Kondang harusnya adalah perbuatan terlarang. Nyi Kondang memang tengah ambil libur dari pekerjaan hiburan di lokalisasi, tapi itu bukan berarti Nyi Kondang mau menerima tamu. Kalau saja Nyi Kondang tidak mau mendengarkan tawaran Kang Ilat, ia pasti sudah memanggil tukang gebuk lokalisasi untuk menghabisi Kang Ilat yang tak diundang tapi datang ini. Tawaran Kang Ilat menarik untuk diterima.
“Meski kelaminku sudah tidak berfungsi, tapi aku telah menemukan cara menyalurkan energi syahwat ke lidahku. Aku telah berlatih. Lidah memang tak bertulang, sama halnya dengan pelir.”
“Pelir dan lidah itu tak sama, Kang.”
“Itulah. Nyi Kondang sudah terlampau banyak menerima yang sama. Percayalah, lidahku dapat sekeras linggis, atau terong, sesuka Nyi saja. Aku dapat mengaturnya. Bila Nyi Kondang menghendaki getaran yang niscaya bikin Nyi Kondang serasa dilanda gempa surgawi, aku dapat menyajikannya.”
“Tawaranmu lucu dan tak masuk akal. Mana bisa lidah menyamai khasiat pelir?”
“Dunia kalau isinya hal-hal yang masuk akal, niscaya jadi membosankan Nyi. Hal-hal tak masuk akal memang perlu untuk bikin suasana gembira. Lidahku akan membuat Nyi Kondang gembira, percayalah. Nyi akan merasakan surga yang lain di bumi.”
“Perkataanmu bisa diterima.” Nyi Kondang tahu mengenai Kang Ilat yang pelirnya sudah tidak bisa berdiri lagi. Menurut rumor yang beredar, pelir Kang Ilat disentil jin masjid, itu terjadi ketika Kang Ilat pipis di toilet masjid tapi tidak disiram.
“Untuk bahan pembantu pertimbangan Nyi Kondang, aku telah siapkan uang sepuluh juta. Nyi Kondang tak perlu melayaniku, biarlah satu malam ini aku buat Nyi Kondang melayang menuju kahyangan. Lidahku sebagai kendaraan menuju ke sana.”
“Kata-katamu manis sekali. Baiklah, akan kuturuti permintaanmu.”
Luar biasa. Lidah Kang Ilat beraksi melebihi pelir yang paling perkasa pun. Entah sihir apa yang Kang Ilat pelajari, lidahnya dapat memanjang dan mengeras selayaknya pelir lelaki kena berahi. Untuk pertama kalinya, Nyi Kondang terpuaskan, sangat terpuaskan, sangat amat terpuaskan dengan sesuatu yang bukan pelir. Malahan, sejujurnya, pelir-pelir yang suka mendatanginya jarang sekali yang mampu memberi kenikmatan seperti ini. Kenikmatan yang tak egois. Pelir-pelir yang suka mendatanginya kebanyakan berperangai egois hanya mementingkan kenikmatan sendiri.
“Kang Ilat, kau hebat sekali. Lidahmu hebat sekali. Aku sangat terpuaskan. Untuk itu, simpan saja uangmu. Ini adalah malam libur yang sangat menyenangkan. Maaf jika aku tidak melayanimu, kepuasan malam ini hanya milikku.”
“Tidak mengapa Nyi Kondang. Seperti yang sudah kukatakan di awal. Syahwat pelirku sudah kusalurkan ke lidah. Jadi aku dapat menikmati dengan lidahku. Apalagi jika melihat Nyi Kondang menggeliat keenakan, itu tambah membuatku jadi nikmat.”
“Terima kasih. Ingat lho, ini jarang-jarang kuucapkan kepada pelanggan.”
“Aku yang berterima kasih Nyi Kondang. Jadi, Nyi sudah percaya?”
Sebagai jawabannya, Nyi Kondang memutuskan untuk berhenti melacur di lokalisasi. Bersama Kang Ilat ia membina rumah tangga, yang hanya sebagai kedok, sesungguhnya Nyi Kondang melihat peluang lain. Bersama Kang Ilat ia membuka praktek baru bertajuk Lidah Legendaris di rumah yang dibelinya. Kang Ilat menerima ide itu dengan senang hati. Ia ingin membuktikan lidah pun dapat memuaskan lebih daripada pelir yang paling perkasa pun.
Rumah Nyi Kondang ramai didatangi perempuan-perempuan kesepian yang ditinggal suami bertugas atau pun melaut. Pundi-pundi uang semakin membuncit. Lidah Kang Ilat semakin terlatih dan memiliki jurus-jurus baru.
Sampai ada ketukan di suatu pagi.
Pak RT datang bawa polisi, mereka diseret dari kamar mandi. Pasangan itu ditangkap karena menimbulkan keresahan desa. Mereka dinyatakan menista tata krama desa dengan membuat praktek zina di rumah.
        Di penjara, Kang Ilat justru dipaksa membuktikan kelegendarisan lidahnya itu.

Jumat, 19 Mei 2017

PELITA KASIH


Keduanya telah saling jatuh cinta ketika pertama kali dijejerkan berdua di atas lantai. Api yang menyala di sumbu kepala mereka bergoyang malu-malu untuk saling berkenalan. Dalam suasana sendu rintik gerimis mengguyur bumi, dua manusia menghangatkan diri berdekatan juga demi penerangan. Kala itu desa mereka kena pemadaman bergilir. Pelita dari dua batang lilin tidak dapat mengusir keresahan pasangan yang baru menikah itu. Sepasang lilin tahu mengenai perasaan manusia, apalagi yang dilanda kesusahan, getar-getar emosi dapat merambat di udara. Pelita dari dua lilin jadi ikut sedih, mereka menunjukkannya dengan gejolak api yang meredup.
Keduanya menjadi saksi bisu dua pasangan manusia yang melakukan segala upaya untuk menjadikan hidup mereka lebih berarti. Keduanya terharu dan kadang juga gemetar ketakutan, kalau saja lilin dapat bergetar takut, saat sepasang manusia itu bertengkar. Namun akhirnya pelita mereka dapat menenangkan pasang manusia itu. Lagi-lagi listrik padam. Di saat-saat seperti itu, keduanya merasa hidup, sebab api kehidupan yang dinyalakan, menambah semangat pelita. Dengan hangat dan kepala api yang dapat membesar, mereka mengirimkan kehangatan kasih kepada sepasang manusia itu.
Keduanya terpisahkan jarak. Walaupun hanya lima atau sepuluh senti. Tetap saja terpisah. Cinta keduanya semakin berkembang, apalagi kalau dinyalakan bersama-sama. Pelita mereka akan saling berbincang dengan bahasa api. Keduanya tentram mengetahui bahwa panjang tubuh mereka selalu sama. Mereka jadi sayang terhadap sepasang manusia yang telah menyalakan pelita kasih di sumbu kepala mereka. Sebab tanpa bantuan tangan manusia, mereka tak akan bisa saling mengenal. Mereka tidak akan hidup tanpa pelita yang menyala. Pelita adalah jiwa keduanya. Keduanya senang dapat memancarkan kasih dari pelita kepada pasang manusia itu. Dengkuran pasang manusia yang saling tidur berpelukan, di lantai, di atas kasur lipat.
Keduanya tambah gembira. Di rumah yang selalu padam listrik dan bolong-bolong atapnya itu kini diramaikan oleh tangis bayi. Tangis kehidupan yang membuat pelita keduanya semakin membesar menerangi rumah petakan. Keduanya adalah lilin yang istimewa, yang lama tak kunjung habis. Mereka saling mencinta walau jarak memisahkan.
Suatu waktu, salah satu dari keduanya berjanji bahwa suatu saat nanti mereka akan bersama, walau kedengarannya tak mungkin. Sebab jarak mereka masih segitu-gitu saja. Salah satu dari keduanya percaya mereka nanti akan melebur dan memancarkan pelita yang bersatu. Alangkah tak disangka oleh mereka bahwa jalinan cinta mereka terwujud oleh campur tangan anak sepasang manusia. Keluarga kecil itu hendak pergi selama beberapa hari. Si anak kecil yang selalu mengamati dansa api lilin saat mati lampu, menyalakan keduanya di jam-jam menjelang keberangkatan. Keduanya percaya sebentar lagi mereka akan bersatu dalam cinta dan kasih. Untuk bersatu, nyala pelita mereka harus bertahan lama. Untuk perlahan-lahan mencairkan tubuh mereka, sebagai perandaian tangan yang saling meraih satu sama lain. Si anak kecil keburu pergi dan membiarkan keduanya tetap menyala. Pintu dan jendela dikunci, listrik sengaja diturunkan, keluarga kecil itu pun pergi.
Cinta kasih sepasang lilin akhirnya menyatu. Cinta mereka hangat dan kian menggelora seiring tubuh mereka meleleh dan bersentuhan, lalu melebur bersama. Gairah mereka panas, sepanas api membara yang melahap rumah keluarga kecil itu.






dalam rangka tantangan #NulisKilat Storial

Senin, 15 Mei 2017

SI FULAN, SI DOR, DAN SI ANU

Ada yang lucu ketika membicarakan tentang seseorang namun susah payah menyembunyikan identitasnya supaya orang yang belum tahu tetap dalam kebelum-tahuannya. Biasanya si anu akan sering dipakai. Karena sudah kadung kita kadang membayangkan yang lain ketika si anu disebut, misal si anu sedang menganu si anu, kan repot, sudah begitu sebutan menganu sering dikaitkan dengan kegiatan anu-anuan, jadi saya beri opsi saja untuk pakai si fulan.
Saya dan teman-teman punya hubungan berbeda dengan si fulan. Hubungan saya dengan si fulan seperti hubungan tarik ulur antara cinta dan benci. Sebab ketika saya melihatnya kali pertama, sosok si fulan membuat saya tidak nyaman, ganteng sih memang, dan gagah, lelaki idaman banget, tapi ya begitu, ada segolongan orang rupawan yang membuat kita lebih memilih untuk tidak melihatnya. Awalnya si fulan itu baik, tapi lambat laun ternyata terkuak bahwa si fulan ini jahat. Saya agak kurang nyaman melihat si fulan beraksi, saya akan menghembuskan napas bosan kalau si fulan kedapatan layar. Tapi ya mau bagaimana, si fulan itu adalah orang penting dalam jalinan cerita. Kalau tidak ada dia sepertinya cerita itu akan berhenti begitu saja. Si fulan punya personalitas ganda. Saya anggapnya si fulan memiliki pergelutan batin yang rumit. Jadinya, yang mengesalkan, saya terpaksa jadi memahami si fulan, apa dorongan yang membuatnya jadi demikian. Pergelutan batin antara baik dan jahat si fulan itu ribet, naik turun, sempat saya berharap si fulan dapat kembali jadi baik, gabung dengan kawan-kawan lamanya melawan kejahatan. Yah, sekali personalitas kepelintir, susah untuk dilempengkan lagi. Malahan, pada akhirnya si fulan jadi makhluk asing yang punya niat ganjil untuk menguasai bumi. Tapi si fulan akhirnya mati, ia diledakkan di angkasa raya. Cerita kehidupan berlanjut tanpa dia. Sampai suatu waktu, ada bedebah yang membuat realitas maya, lalu di sana si fulan hidup kembali. Di situ si fulan jadi ikutan grup jahat, eh tetapi, personalitas pelintirnya masih ikut saja, di dunia maya itu ia sesungguhnya adalah orang baik. Di situ saya ingin ia kembali jadi tokoh penting di cerita, sebagai keping yang hilang kini kembali lagi. Tapi harapan itu jadinya muluk-muluk. Berbeda dengan teman saya yang sedari awal sangat tergila-gila dengan si fulan. Oke, di sini, identitas si fulan tersepakati oleh kami. Sebelumnya si fulan disebut sebagai anu.  Saya berpendapat beda, saya usul supaya si anu yang dimaksud diganti jadi si fulan, sebab si fulan adalah hal yang serius, seserius si fulan yang disebut dalam hadits-hadits. Teman saya itu suka dengan si fulan, mau dia jahat atau pun sedang kumat baik, teman saya mendambakan si fulan sebagai pasangan idaman. Misteri tentang apakah si fulan akan kembali membuat teman saya itu panas dingin, semenjak kemunculannya kembali sebagai orang baik, teman saya itu sangat histeris, lalu kami pun berspekulasi teori-teori penembusan dunia paralel. Kami mau si fulan kembali!

Sabtu, 13 Mei 2017

Bulu Mesin Waktu Muson

Bulu hidung yang tercabut itu memang sakit. Makanya Muson dapat menjelajahi waktu lebih panjang kalau ia cabut bulu hidung. Ah tapi itu hanya dilakukannya di keadaan genting. Segenting ketika teman kelasnya yang usilnya kayak anak setan, bersama tiga kroconya menjegal Muson lalu mencabut empat helai bulu hidung. Anak-anak setan itu membakar bulu hidung yang berhasil mereka cabut. Ah goblok! Muson mengutuk kebegoan mereka. Kini ia harus menjelajah waktu demi menyelamatkan anak-anak setan itu. Mereka terlempar ke masa lampau. Sebab bulu hidung yang mereka cabut ada upilnya.
Sebut saja apa yang bisa dilakukan bulu-bulu pada tubuh Muson sebagai keajaiban, terserah kamu saja. Karena Muson berkata lain. Ia sudah belajar dari pengalaman lampau. Dahulu, ia memanfaatkan bulu-bulunya untuk putar-putar waktu, tentunya demi kepentingan pribadi. Ia mencabut sehelai rambut dan dapat maju atau mundur waktu sesuai dengan panjang rambut tersebut. Katakanlah satu senti setara dengan lima menit. Muson jadi disebut cenayang oleh teman-temannya karena dapat membocorkan soal ujian kenaikan kelas. Mencabut bulu kaki setara dengan satu jam waktu. Mencabut bulu jari setara dengan dua jam waktu. Mencabut kumis sama dengan satu hari. Mencabut jenggot sama dengan setengah hari. Mencabut bulu lengan sama dengan dua setengah jam. Mencabut jembut, ah jangan sebut dulu.
Awalnya ia tidak tahu bulu-bulu pada tubuhnya bisa berkhasiat demikian. Semua diawali dengan ketidaksengajaan. Muson rambutnya rontok dan ia membakar beberapa helai. Ia tidak sadar telah melompat belasan menit ke depan. Ia baru sadar ketika ia menengok jam dan aneh sendiri jadinya padahal sedetik yang lalu ia tahu betul baru menunjukkan pukul sekian. Sampai ia ketemu dengan seorang pengemis dengan baju garis-garis lusuh dan sebuah kartu nama tersemat di kantong bertuliskan “Aku Ki Warugan”.
Pengemis itu menerima receh dari Muson lalu berkata, “Bulumu adalah mesin waktu.”
Dari situlah Muson ketahui bahwa bulunya bisa memanipulasi waktu. Lambat laun melalui percobaan-percobaan ia ketahui kuantitas waktu dari setiap bulu di tubuhnya.
Nah, Muson memutuskan untuk mencukur gundul kepalanya ketika ada insiden yang melibatkan gadis yang ditaksirnya. Gadis itu ganjil tapi cantik dengan rambut mangkuk yang lucu, ia pendiam, punya sorotan mata yang menakutkan, suka duduk di pojokan, suka menghardik bagi siapa saja yang mau duduk di sebelahnya, kecuali ke Muson. Muson waktu itu rambutnya suka rontok. Ia dibuat terkejut karena gadis yang ditaksirnya itu ternyata punya kegemaran menguntitnya. Gadis itu, tahu rahasianya. Gadis itu, mengumpulkan rambut rontok Muson.
Di hadapan muson ia membakar puluhan helai rambut Muson. Gadis itu menghilang. Muson terpaksa mencabuti dengan terkaan jumlah helai rambut yang dikumpulkan gadis itu. Muson selalu membawa korek untuk berjaga-jaga. Muson kewalahan mencari tahu ke mana gadis itu pergi. Saat-saat terpuruk ketika Muson putus asa mencari gadis itu, ia mengulang kembali identitas si gadis, ia urutkan kejadian-kejadian yang ia ketahui mengenai gadis itu. Oh, gadis itu dikabarkan telah kehilangan ibunya. Muson paham, ia mungkin satu-satunya yang dapat memahami gadis ganjil itu, sebab Muson menaruh hati padanya. Sikap ganjil dan nyeleneh si gadis adalah buah kesedihan atas ratapan terhadap ibu yang telah pergi. Muson ingat kapan ibu si gadis meninggal. Ia kemudian menghitung waktu, lalu ia ukur dengan presisi yang mustahil, selain korek ia pun suka membawa penggaris lipat. Muson akhirnya menemukan si gadis. Si gadis mengaku ia ingin melihat ibunya lagi. Muson berkata bijak mengenai kerelaan insan terhadap yang sudah mati. Si gadis marah, katanya Muson tidak paham kesedihannya. Si gadis pergi saat Muson menawarkan untuk kembali ke waktu yang sejati. Terpaksa Muson menciptakan paradoks, ia membuat gadis itu tidak bisa ke mana-mana dalam penjara waktu. Bagaimana Muson menciptakan paradoks seperti itu? Ya, ia membakar bulu jembutnya.
Sialnya, si gadis nyeleneh itu menulis surat kepada begundal kelas yang seperti anak setan, membeberkan rahasia Muson. Pada saat itu Muson sudah mencukur botak kepalanya serta bulu-bulu yang ada di tubuhnya, kecuali bulu hidung. Sial memang, bahkan orang yang kau sukai ternyata diam-diam merencanakan kesialanmu. Entahlah apa maksud dan tujuannya.
Mencabut bulu hidung itu memang sakit. Tapi apa boleh buat, bahkan anak setan pun perlu ia selamatkan. Karena ada paradoks-paradoks yang mengincar para penjelajah waktu. Apalagi mereka yang tidak layak. Muson ingin memberi pelajaran kepada anak-anak setan itu sebelum ia nanti berhasil menemukan mereka dan membawa mereka kembali ke waktu yang sejati. Ah sialnya, bulu jembutnya sudah habis. 

Jumat, 12 Mei 2017

Istri Semesta Sabun Inyong Koderi

Anggap saja ini dongeng. Inyong Koderi, pemuda yang punya semesta sabun. Di tempat yang penuh buih dan gelembung wangi itu ia bisa mencipta apa saja. Termasuk sesosok istri.
Inyong Koderi sudah kepala dua tambah lima, ia capek mendengar cerocosan ibunya yang bawel minta menantu. Sudah begitu, Inyong Koderi pengangguran, sukanya melamun ngawur di siang bolong ditemani ukulele butut bersenar dua. Parahnya lagi, Inyong Koderi punya dua kutil di jidat, ya mana gampang cari prospekan istri. Gadis yang tak laku saja tidak mau, apalagi yang bening bagai mutiara. Demi menghapus kemalangan nasib itu, ya sudah, mending menciptakan dunia yang hanya ia sendiri bisa masuki. Sebuah dunia ajaib yang dipenuhi gelembung sabun. Di dalam gelembung itu Inyong Koderi dapat mencipta desa, kota, negara, apa saja. Ia mencipta minion-minion lucu yang akan bekerja untuknya siang dan malam. Menyediakan apa saja yang Inyong Koderi minta. Sekali jentikan jari apa saja muncul di hadapan wajah.
Maka ketika kali keseribu ibunya minta menantu, Inyong Koderi mendapatkan ide. Ia ingin ibunya bahagia melihat anaknya yang tak punya kerja punya istri dambaan jiwa. Ia kerahkan energi dan daya ciptanya untuk membuat semesta sabunnya menjadi nyata. Sebelumnya ia telah menghabiskan waktu untuk menambah wawasan referensi wanita yang bisa membuat ibunya bahagia, dapat sudah kompilasi wajah artis yang bisa ia gabung pakai aplikasi, menjadi sesosok wanita sesempurna bidadari. Di semesta sabunnya ia bisa memproyeksikan gambaran wanita itu dengan utuh dan berwujud. Inyong Koderi pun masuk ke semesta sabunnya melalui lubang wastafel setelah dialiri busa sabun ajaib yang didapatnya dari Ki Warugan penjual obat mujarab.
Aduhai, Inyong Koderi disambut dengan manis oleh bidadari dambaan hati, ia sebut saja calon istri dari semesta sabunnya dengan nama Sinden Lela. Di semesta lain yang pernah ia ciptakan, demi menghibur hari-hari monoton tanpa kegiatan, ia pernah membuat semesta yang berisi pesinden ayu, salah satunya Sinden Lela. Aduhai, Inyong Koderi jatuh cinta dengan rekaannya yang berwujud nyata terasa itu. Wajah, lekuk tubuh, suara merdu, belaian manja, sungguh sempurna. Melihatnya saja sudah membuat Inyong Koderi lemas lututnya. Inyong Koderi membawa Sinden Lela menemui ibunya, ia membawa calon istrinya melalui lubang pancuran ajaib yang ia dapat dari Ki Warugan ketika beliau masih jualan produk kamar mandi. Mantab, meski pengangguran, hidupnya dipenuhi keajaiban-keajaiban yang nyata.
Ibunya amat bahagia. Ia terima dengan senang hati Sinden Lela sebagai menantu. Pernikahan pun dilaksanakan. Inyong Koderi sama amat bahagia. Akhirnya ia bisa memiliki seorang wanita, bahkan ia telah lupa bahwa Sinden Lela adalah rekaan yang ia buat dari salah satu gelembung semesta sabun.
Jadi, untuk menambah bumbu kehidupan, Inyong Koderi harus disadarkan. Sinden Lela meletup bagaikan gelembung sabun yang kelamaan terpapar udara, itu terjadi ketika ibu Inyong Koderi memeluk menantunya dengan haru bahagia.
Putus asa, Inyong Koderi masuk lagi ke semesta sabun dan menetap di sana. Punya istri di sana. Beranak pinak di sana. Bahagia selama-lama cerita ini kau baca.



ditulis untuk ikutan #NulisKilat hari Jumat Storial