Kamis, 19 April 2018

CERITA PENDEK TENTANG MUNYUK YANG DILARANG PROTES


Di sekolah belantara, di mana murid-muridnya adalah para munyuk dan binatang-binatang yang setara, di mana guru-gurunya adalah gorila dan singa, ada satu munyuk yang mengalami kejadian tak mengenakkan.
Alkisah dikabarkan bahwa sekolah belantara satu itu sudah termasuk sekolah yang maju pemikirannya. Hanya saja, itu hanya sekadar kabar, bukan kenyataan. Kabar tersebut digunakan sebagai jubah nama baik saja, bukan penjiwaan atas kelakuan.
Si munyuk malang satu ini masuk ke sekolah belantara itu lantaran kabar tersebut. Dengan suka hati dia masuk dan belajar. Pada awalnya, kabar itu rasanya memang benar. Pemikiran dalam sekolah belantara itu cukup maju. Baik dari para guru dan murid-murid. Si munyuk jadi semangat sekolah. Suatu hari si munyuk berkata kepada kawannya, “asyik ya sekolah ini, sudah murah, kegiatan belajarnya juga menyenangkan.”
Si kawan hanya mendengus, ditambah dengan munyuk senior yang lewat dan ikut nimbrung berkata, “Kau belum tahu saja.” Dia ikut mendengus.
Ini adalah permulaan pertentangan batin si munyuk baru yang lugu. Dia mempertanyakan, apakah ada sesuatu buruk yang tak terendus olehnya? Sayangnya, hal itu dengan cepat dia bakal rasakan.
Suatu hari yang sial, si munyuk datang hampir terlambat. Dia tidak sendiri, dia terlambat bersamaan dengan munyuk dan ajak lain. Di pintu gerbang ada guru gorila juga. Mereka berjalan lambat-lambat, mengobrol dengan guru lain. Si munyuk dan murid lain yang terlambat jadi terlibat dorong-dorongan ingin masuk ke mulut gerbang. Akibatnya guru gorila terkena desakan itu. Dia sontak marah dan menyambar munyuk paling dekat, yaitu munyuk lugu kita. Guru gorila geram, dia tak mau mendengarkan penjelasan munyuk. Munyuk sudah minta maaf berkali-kali dan mengaku tidak bersalah, dia hanya kena dorongan dari belakang. Guru gorila tidak terima. Lantas dia menggampar si munyuk lalu menyeretnya masuk ke sekolah, dilempar ke hadapan para gorila yang lain. Di sana si munyuk jadi bulan-bulanan para gorila.
“Maaf Pak guru, saya tidak merasa mendorong Pak guru, saya kena dorongan dari belakang.”
“Halah! Jangan berkelit! Kamu melakukan hal itu dengan sengaja, dasar munyuk tidak tahu diuntung!” Si munyuk kena gamparan lagi. Guru gorila yang lain menyoraki untuk menghajar saja si munyuk.
Si munyuk sudah minta maaf beribu kali, guru gorila yang kadung marah tidak mau menerima. Dia terus saja melampiaskan amarahnya kepada si munyuk. Setelah sekian jam baru dia dikeluarkan dari hadapan para gorila. Si munyuk sudah babak belur. Hatinya terluka. Kepercayaannya terhadap sekolah ini telah terkhianati. Di sekolah ideal yang berpikiran maju, pikirnya, guru-gurunya harusnya mau mendengarkan. Tidak seperti tadi, tutup telinga terhadap penjelasan dan terus saja melampiskan kegeraman. Padahal jelas-jelas si munyuk tidak bersalah, tidak sengaja.
Oleh teman-temannya, dia diminta untuk melapor ke para bagong hutan. Mereka adalah penegak keadilan di belantara. Sayangnya, belum sampai si munyuk menghadap ke para bagong, guru gorila sudah keburu mendengar. Dia ditarik lagi ke hadapan gorila. Jadi bulan-bulanan lagi.
“Awas ya, kalau kau berani mengadukan ini ke para bagong, aku pastikan kau tidak aman di sekolah ini.”
Si munyuk diam saja. Dia sungguh sakit hati dengan perlakuan ini. Dalam hati, lebih baik aku keluar dari sekolah ini daripada diajar oleh gorila bangsat seperti kalian. Tak sudi aku berlama-lama di sekolah di mana gurunya arogan semua.
Hari itu juga, si munyuk memutuskan tidak lagi bersekolah di sana. Dan oleh dukungan teman-temannya, si munyuk tetap melaporkan hal tersebut ke para bagong.
Kasus yang menimpa si munyuk, menjadi bahan omongan oleh masyarakat belantara. Para pemirsa meresapi kisahnya dan menanggapi dengan sinis dan pesimis. Si munyuk sendiri berpikir, apakah para munyuk akan selalu ditindas oleh gorila-gorila arogan yang merasa punya kuasa? Bahwa kebenaran milik makhluk kecil seperti munyuk, tidak ada artinya?

Senin, 16 April 2018

PRE ORDER PAKET BUKU #KESETANAN karya Haditha


Sinopsis Dalam Kurung:
Kegiatan melamun sore hari di pinggir sungai dekat dengan rumpun bambu yang memberi kesejukan angin semilir buat Djabrik ternyata mengungkap kejadian amat ganjil yang pernah ia alami seumur hidup. Sahabat yang menyerupai kekasih mendatanginya melalui portal dimensi di antara rumpun bambu. Sahabat yang dirindui itu memberi peringatan bahwasanya akan ada peristiwa lepasnya makhluk-makhluk mistis dari suatu kurungan dan bakal membahayakan hidup manusia.

Awalnya Djabrik mengira sahabat yang dirinduinya itu bercanda. Namun semenjak ada kejadian kesurupan massal di lapangan, barulah ia percaya dan menganggap serius peringatan itu. Sekali lagi Djabrik menghadapi peristiwa mistis di luar nalar yang tak akan mungkin mudah terlupa sepanjang masa. Apalagi kesurupan paling dahsyat ternyata menimpa orang yang amat dikasihinya.

Sinopsis Tapak Setan:
Hanya segelintir saja yang pernah berinteraksi dengannya secara baik-baik. Sebab sedikit saja kau menyinggungnya, telapaknya akan meraup wajahmu dan kau akan dihantui setan terburuk selama berhari-hari. Untunglah bagi Basuki, situasi hati dan kepala orang yang sedang kita bicarakan ini lagi baik waktu berkenalan dengannya. Untung pula Basuki ini bukan orang yang tergolong dapat membuatnya tersinggung. Basuki adalah anak baik-baik. Maka orang yang kita bicarakan ini mau menjawab secara jujur terbuka kepada Basuki.
Basuki tahu tentang apa yang bisa dilakukan oleh orang yang sedang kita bicarakan ini. Basuki pernah bertanya, “Jadi, bagaimana caramu mengusir hantu?”
Yang ditanya menjawab, “Aku tidak mengusir mereka.”
“Lalu?”
“Aku mengundang mereka masuk dalam tubuhku.”
Mendengar itu Basuki pingsan setelah beberapa saat lamanya mencerna maksud dari jawaban tersebut. Sayang sekali, akhir hidup Basuki cukup nahas. Setelah kepergian orang yang kita bicarakan ini dari lingkup kehidupan Basuki, ada gerombolan orang jahat yang menyiksa Basuki demi mengetahui keberadaan orang yang kita bicarakan ini. Basuki disiksa sampai mati.

Pesan melalui WA: 085692751666
atau email ke haditha.moh@gmail.com

Jumat, 19 Januari 2018

MENULIS BIAR JADI MANUSIA

Demi menjadi manusia, kamu ingin menulis. Itu kamu katakan saat pertama kali kamu jumpa denganku selepas aku membacakan cerita pendekku yang lucu dan penuh interpretasi tentang kelamin manusia. Kamu tertarik dengan cerita. Kamu ingin bercerita, kamu ingin menulis. Ciri khas manusia adalah bercerita, katamu.

Kamu bilang kamu belum merasa jadi manusia utuh apabila belum menuliskan cerita. Cerita tentang kehidupan manusia. Aku bertanya, bukannya kamu sekarang ini manusia? Kamu menjawab, aku memang manusia, tapi dengan menulis aku akan jadi lebih dari manusia biasa. Manusia biasa tidak menulis, katamu. Aku bilang padamu, penulis adalah manusia biasa. Kamu menolak ide itu. Penulis tentu bukan manusia biasa, katamu. Itu didukung dengan emakmu yang manusia biasa, tidak menulis. Kamu ingin jadi lebih dari manusia. Kamu ingin bercerita tentang manusia. Kamu ingin menulis tentang kemanusiaan. Maka, katamu, untuk melakukan itu, kamu ingin jadi lebih dari manusia dulu. Aku bingung, katamu tadi dengan menulis kamu akan jadi lebih dari manusia. Jadi mana yang lebih dulu? Menjadi lebih dari manusia apa menulis? Kamu mengabaikan pertanyaanku.
Aku pusing dengan perkataanmu yang tak jelas juntrungannya. Aku jelaskan padamu, kalau ingin menulis ya menulis sajalah. Kamu menolak ide itu. Katamu, kamu ingin memperdalam pengalaman menjadi lebih dari manusia. Kamu ingin berkelana ke tempat-tempat penuh celaka. Tempat di mana orang-orang malang hidup beranak pinak. Aku bilang, kamu bisa melakukannya tanpa melakukan itu semua. Kamu bisa melakukannya dengan banyak membaca. Kamu menolak ide itu. Kamu bilang pengalaman yang didapat dari membaca tentu berbeda dengan pengalaman yang didapat secara langsung. Aku bilang, terserah kamu sajalah. Kamu meminta nomorku. Aku berikan.

Aku memang tidak begitu pengin menunggumu menghubungiku. Tapi dulu waktu pertama bertemu kamu bilang ingin dibimbing dalam menulis buku. Sebenarnya aku mau saja, tapi itu tergantung kamu. Akhirnya, setelah berminggu-minggu berlalu, kamu baru menghubungiku. Kamu kembali lagi dengan pertanyaan pertamamu, bagaimana memulai menulis. Katamu, kamu sudah punya cukup bahan untuk menulis tentang manusia. Kamu selama berminggu-minggu itu, sudah numpang hidup di rumah kardus anak jalanan. Kamu bercerita banyak padaku. Kamu ingin menulisnya, tapi kamu ingin cerita dulu kepadaku. Aku manggut-manggut saja mendengar ceritamu tentang seorang gadis jalanan yang sudah bunting tiga kali dan gugur tiga kali. Di situ justru aku yang mendapat ide dan gagasan untuk menulis kisah kemanusiaan dari ceritamu. Sementara kamu masih berpanjang-panjang ria dalam bercerita pengalamanmu. Ketika aku bertanya, sudahkah kamu menuliskannya? Kamu bilang, sudah sedikit-sedikit. Lebih banyak ditulis di kepala, katamu. Aku minta tulisanmu yang sedikit-sedikit itu untuk kubaca, kamu menunjukkannya. Kamu menuliskan cerita yang sedikit-sedikit itu di kertas-kertas bon parkir swalayan. Katamu kamu sempat mengalami jadi tukang parkir, mengikuti kegiatan salah satu anak jalanan. Aku baca tulisanmu itu dan kukatakan padamu, aku seperti membaca tulisan anak SD yang baru belajar bercerita. Kamu memang tidak tersinggung. Kamu menyanggah, manusia memang memerlukan perkembangan. Aku maklumi sajalah itu. Lalu aku bertanya padamu lagi, sudahkah kamu membaca buku? Kamu jawab, belum, belum ada waktu. Dari situ aku sudah melihat, kamu memang tidak serius ingin menulis. Kamu tidak serius untuk jadi lebih dari manusia. Tapi itu kusimpan saja dalam hati.

Jumat, 20 Oktober 2017

CARA MENYAJIKAN DENDAM


Hasrat membunuh muncul dengan picuan tertentu. Semisal, fitnah. Di mimpi dan imajinasinya, Bandot telah membunuh berkali-kali satu orang yang amat dibencinya itu. Seorang pengurus suatu yayasan, sebut saja orang itu Sengkuni. Sebab ia suka sekali membisiki bos-bos berdompet tebal di pucuk kekuasaan, menampilkan diri sebagai yang terbaik dan paling suci dan paling moralis.
Sebelum Bandot jadi korban fitnah yang tidak diberi kesempatan penjelasan dua sisi, ia telah menyaksikan sendiri bagaimana si Sengkuni memperlakukan orang-orang yang berada di bawah telapak kakinya. Sengkuni, sebenarnya bukan siapa-siapa. Namun karena kerajinan menjilat dengan bahasa manis ke bos-bos berkedudukan, ia melesat dan dipercayai memegang sebuah yayasan. Bandot, merasakan pedihnya, sedihnya orang-orang yang dianiaya secara batin oleh Sengkuni.
Yang pertama, anak asrama yang ketahuan bekerja di luar. Sengkuni mengusirnya. Alasannya, di asrama sudah diberi fasilitas uang saku dan sebagainya. Pengusiran itu secara sepihak dan tidak mau mendengarkan dulu latar belakang mengapa si anak bekerja diam-diam di luar sepengetahuan pengurus. Anak yang bekerja itu, tentu saja lebih memilih keluar dari asrama, daripada terus mendekam dengan hati yang tersakiti akibat ditindas oleh orang yang mengaku menjadi pengurus yayasan asrama, tapi sedikit pun tak memiliki hati untuk mengayomi selayaknya sosok bapak pengganti. Ya, lebih baik pergi.

Rabu, 18 Oktober 2017

LONCENG YANG BERBUNYI SENDIRI

Penduduk lereng gunung Matasayu selama berminggu-minggu diteror oleh bunyi lonceng di gunung yang sedang ditinggal juru kuncinya untuk dicarikan juru kunci yang baru, sebab si juru kunci tua sudah merasakan ajal mau mengetuk rumahnya suatu malam nanti. Penduduk tak ada yang berani mendatangi menara tempat lonceng itu berada. Terutama karena gunung itu terkenal angkernya. Banyak saksi mata yang melihat kemunculan macan putih atau alap-alap merah di hutan yang mengelilingi menara tua peninggalan nenek moyang itu. Bunyi lonceng itu berbunyi tak henti pada tiga minggu sebelumnya, disusul oleh suara lolongan yang mengelus bulu kuduk. Memang pada saat itu, terjadi hujan badai dahsyat. Petir menyambar begitu terang dan menggelegarnya ke gunung Matasayu. Banyak yang mengira, ada roh gentayangan yang riang gembira karena juru kunci sedang pergi. Keberadaan juru kunci memang untuk menahan kekuatan-kekuatan gaib memasuki permukiman penduduk. Makin-makinlah, dengan isu yang demikian itu, penduduk mati nyali untuk memeriksa lonceng tua itu.
“Juru kunci kapan kembalinya, ya?” seorang penduduk bertanya-tanya dan berharap.
“Kau kira mencari pengganti juru kunci gunung Matasayu mudah?”
“Mengapa dia tidak mencari anak muda dari desa saja?”
“Ya karena tidak ada yang layak menurutnya. Pekerjaan menjaga gunung itu bebannya seberat gunung itu sendiri.”
“Walah, gila.”

DIBUNUH OLEH WAKTU

Bila diberi waktu, manfaatkan dengan baik, ngek. Jangan seperti si Damput yang bilangnya ingin menulis buku tapi lebih sering bilang, “Belum ketemu waktunya.” Si Damput ini, ngek, nasibnya tragis. Tragis yang tidak melibatkan darah, ngek. Dia dibunuh dengan kejam oleh si waktu. Dia termakan sendiri oleh ucapannya, ketika bapaknya yang tak sabar ingin membaca karya anaknya, menanyai kabar tulisannya, si Damput menjawab, ngek, “Nanti pak, tulisannya sudah ada di kepala. Tinggal dituangkan. Masalahnya, waktunya belum ketemu, aku sibuk. Coba kalau aku diberi waktu yang panjaaaang, aku pasti bisa selesaikan.”
Bapaknya kemudian berdoa di depan patung berpenis besar sembari mengisap rokok bergantian dengan mulut dower si patung, “beri anakku waktu yang panjang, Tuan.”

Selasa, 10 Oktober 2017

ALIH RUPA JAHANAM

Selamat datang di eranya para pemfitnah. Di era ini banyak orang dengan mudah mendulang ketenaran. Silakan saja merekam video sensasi kontroversial, jari-jari manusia akan melancarkan aksimu itu ke saluran dunia maya. Di era ini orang suka mencampuri urusan orang lain dan bawel tak tahu batas. Sok benar dan paling suci. Padahal disodori video rekaman orang bugil, lebih cepat dari kilat, mereka akan membagikannya ke sejawat.
Tapi yang namanya tenar dengan cepat, akan terlupakan dengan cepat pula. Makanya pintar-pintarlah bikin sensasi. Kalau memang itu tujuanmu, sensasi bisa membuatmu tenar, tenar bisa membuatmu tajir mendadak.
Di jaman ini bukan saja selebritas berhak tenar, orang-orang biasa pun bisa melejit jadi selebritas dalam cara pintas. Ciptakanlah sensasi. Sensasi itu bisa yang bersifat positif juga bisa negatif. Mau lebih cepat tenar, pilih yang negatif.
Salah satu yang ditimpa ketenaran adalah ia yang bernama Titi Kemayu. Ia peraih tenar pintas karena seorang iseng merekamnya sedang menari dengan baju minim di atas jembatan titian yang sudah lama tak dilalui orang. Di atas sungai keruh di kala hujan. Awalnya ia malu setengah mati dan sempat tak keluar rumah berminggu-minggu. Sampai orangtuanya menyemangatinya bahwa ketenaran yang diperolehnya bisa jadi berkah sekeluarga, sebab pada saat itu keluarganya lagi melarat. Media sudah heboh dan menayangkan aksi joget titian berulang-ulang, juga telah dibincangkan di acara-acara talkshow, warganet heboh dan penasaran dengan jati diri si penjoget titian, video rekaman joget titian di bawah hujan sudah ditonton berjuta kali. Penelusuran ekstrim dilakukan oleh pemburu berita sensasi, mereka ingin mengangkat si penjoget titian. Satu awak media telah berhasil mengantongi alamat si penjoget titian, namun ada oknum yang tergiur uang sampingan, alamat itu bocor ke media lain. Akibatnya, rumah penjoget titian ramai dikepung awak media. Bujukan manis mereka sampaikan kepada orang tuanya. Remaja-remaja sekitar yang penasaran mengapa banyak awak media, mulai beraksi dengan beratraksi yang aneh-aneh, tapi tentu saja, diabaikan.