Senin, 06 Maret 2017

KISAH KI WARUGAN

Adalah Ki Warugan, seorang bekas anggota paguyuban sihir Randang Gageh, kini menapakkan diri di sebuah wilayah dengan ketimpangan sosial begitu kentara. Semenjak lama setelah ribut-ribut terakhir di paguyuban sihir yang menyebabkan anggotanya tercerai berai, ia mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Sihir yang dianugerahkan kepada dirinya termasuk dalam kategori sihir natural, yakni yang berasal dari darah, bawaan  ragawi lahiriah. Tidak banyak yang terlahir dengan bawaan sihir natural seperti itu di paguyuban sihir Randang Gageh, kecuali satu, seorang yang namanya bila diingat akan menyebabkan luka lama kambuh kembali.
Sudah terhitung ratusan tahun dia hidup menyendiri. Mengelana dalam naungan dan bimbingan kebajikan. Satu pandu yang meyakinkan diri untuk jangan dahulu moksa. Umat manusia membutuhkan uluran sihir baiknya. Bila kau tengok apa yang senantiasa bergejolak di antara umat manusia, niscaya kau akan percaya Ki Warugan ini bakalan hidup selamanya. Betapa tidak, manusia mana yang hidup dalam satu jalur saja? Jalur kebaikan? Nihil. Selalu saja ada bentrok. Ki Warugan hadir dari balik tabir muslihat untuk memperbaiki itu.
Selama ratusan tahun dia menjelajahi dunia yang tak bersudut, sudah tak terkira berapa wilayah yang dia singgahi untuk diberi pertolongan. Dirinya pun tak mau menghitung, demi menghindari ujub. Hal yang pantang bagi penyihir beraliran putih. Ki Warugan senantiasa mewujud diri sebagai rakyat jelata, pelancong yang rehat di kedai, bahkan pengemis dengan muka melas dan koreng di sekujur tubuh. Demikian itu agar ia dapat mendengarkan keluh kesah rakyat kecil yang ditindas kasta menengah dan tinggi.
Jadilah penolong yang tak terlihat. Begitu diri selalu mensugesti. Biarlah pertolongannya ini disangkakan sebagai kebaikan Ilahiah yang turun dari langit, karena memang demikian adanya, dirinya hanyalah sebagai perpanjangan tangan. Bukankah setiap insan harus saling membantu? Karena dalam sihir yang dianutnya, sekali saja sikap tinggi hati mendera akibat seseorang tahu dialah yang menolong, maka itu sudah akan menodai kemurnian maksud. Nanti-nanti niat mulai berubah. Itulah yang disimaknya dari pengembaraan di setiap wilayah yang kebetulan terdapat salah satu dari murid-murid mantan anggota paguyuban penyihir Randang Gageh yang selamat dari petaka terakhir. Murid-murid itu menamakan diri sebagai dukun, orang pintar, paranormal dan lain sebagainya. Menjadikan diri mereka sebagai satu tempat yang selalu dituju orang yang lagi dirundung sial, pemburu untung, dan pemalas yang mengharap rejeki instan. Mereka-mereka itu pelaku sihir laknat yang melakukan tipu-tipu. Sesungguhnya mereka itu tak berkemampuan sihir sama sekali, melainkan melakukan persekutuan dengan bangsa jin. Persekutuan jenis itu adalah terkutuk. Maka mudah saja bagi Ki Warugan memutus koneksi persekutuan itu. Ilmu sihir natural memungkinkan Ki Warugan membuka dan menutup portal dimensi dan menguncinya. Menjebak jin itu agar tak bisa muncul menembus alam manusia. Maka, keuntungan yang disedot dari orang malang putus asa oleh dukun-dukun tak bertanggung jawab itu putus, dan semua orang pun akhirnya tahu bahwa mereka sudah ditipu daya.
Kira-kira dua ratus tahunan Ki Warugan berusaha menghapus keberadaan dukun dari muka bumi. Menghapus di sini bukanlah meniadakan nyawa pelakunya. Melainkan membuat orang-orang tak memercayakan nasib kepada mereka lagi. Keberadaan mereka itu lebih banyak mudarat daripada manfaat. Mereka itu lintah tak tahu diri.
Melanjutkan perjalanannya, suatu waktu Ki Warugan baru tahu desas-desus bahwa sejawat mantan anggota paguyuban sihir Randang Gageh satu per satu meninggal dengan cara misterius. Hal itu pernah disaksikan sendiri, satu anggota yang dahulu selalu mengekor padanya karena keirian terhadap sihir natural, mati mengenaskan di sebuah gubuk di puncak bukit. Kematiannya adalah tepukan kesadaran bagi Ki Warugan bahwasanya sihir hitam mulai merajalela. Petaka terakhir itu berlanjut. Kematian sejawat sihirnya itu membikin orang-orang setempat yang menyaksikan menggigil ngeri dan mimpi buruk tujuh hari tujuh malam. Tubuh penyihir itu tercerai berai. Terpisah satu sama lain. Kepala menempel di dinding tempat pintu berada, kedua tangan terpaku di sisi lain, kedua kaki menancap di sisi satunya lagi. Sedangkan badan diberdirikan di tengah-tengah gubuk. Kesemua anggota badan itu dalam kondisi seperti telah disedot habis darahnya. Suatu malam Ki Warugan menyatu dengan ketiadatampakan udara, demi memeriksa tubuh sejawatnya yang malang itu. Didapati olehnya jantung milik sejawatnya tidak berada di tempat. “Jantung dibuat menjadi mustika.” Ki Warugan tahu.
Maka Ki Warugan mempersiapkan diri. Jalurnya adalah jalur putih. Jalur yang tidak singkat. Karena ilmu kebaikan sejati tidak dicapai dengan instan. Ilmu sihir naturalnya digunakan untuk lebih banyak meringankan beban hidup rakyat jelata. Setiap kebaikan yang membuat orang mengucap syukur kepada pencipta, memberi kekuatan Ki Warugan. Berbeda dengan ilmu sihir natural yang didapat dengan cara instan. Itulah, yang tengah dikhawatirkan Ki Warugan. Pelaku sihir hitam yang menyerang sejawat-sejawatnya itu memperoleh kekuatan dahsyat yang keji dengan nyawa-nyawa manusia malang yang direnggut jantung dan dihisap sari pati otaknya. Kekuatan sihir hitam yang laknat, diperoleh dari kekuatan hidup makhluk. Apalagi bila berasal dari manusia, apalagi bila berasal dari para penyihir! Sepuluh tahun Ki Warugan melakukan kebajikan, rupa-rupanya tidak akan sanggup menandingi kekuatan sihir hitam yang mampu memperoleh kekuatan setara hanya dengan merenggut tiga nyawa manusia biasa.
Ki Warugan haruslah tenang dalam menghadapi marabahaya ini. Sikap gegabah hanya akan menggoncang pasak teguhnya. Maka di sinilah ia, di wilayah bernamakan Tanjung Wungu. Tempat di mana bangunan-bangunan megah berdiri. Bagi orang-orang seberang, mungkin saja mereka akan mengagumi betapa menakjubkannya Tanjung Wungu. Mereka akan bilang, “Tanjung Wungu memiliki peradaban yang mumpuni!” itu hanyalah pandangan mata buta yang cuma mampu melihat permukaan. Ki Warugan akan menolong penduduk teraniaya di Tanjung Wungu tersebut.
Di Tanjung Wungu, kehidupan rakyat kecilnya mengenaskan. Bangunan-bangunan megah itu dibangun di atas darah dan keringat bahkan nyawa rakyat jelata. Mereka dipekerjakan secara tak manusiawai oleh juragan-juragan konglomerat. Anak-anak muda yang masih naif biasanya jadi sasaran para calo pemberi kerja. Anak-anak muda itu mudah dibuai dengan janji manis mengenai hidup layak di kemudian hari bila mau diajak bekerja bersama calo itu. “Juragan-juragan membutuhkan karya kalian, mereka akan memberi jatah kekayaan tujuh turunan. Kalian akan sejahtera.” Awalnya begitu, di era ketika para juragan itu merupakan pendatang dari negeri sebelah. Hampir seluruh pemuda dari lima desa di kaki gunung berpamitan kepada para gadis pujaan hati untuk pergi ke Tanjung Wungu. Mereka tidak tahu nantinya sisa hidup mereka akan diperas demi kejayaan semu dan para gadis akan kehilangan perjaka dambaan hati. Kejayaan yang hanya bisa diklaim oleh para juragan tersebut. Sementara mereka akan tenggelam di dasar kesengsaraan.
Di masa-masa setelahnya ketika para juragan menghendaki lebih banyak tenaga untuk diperas demi kejayaan, perekrutan anak muda sudah tidak lagi menggunakan rayuan kesejahteraan masa depan. Mereka datang dengan tangan besi yang menyekap ibu dan adik atau orang tersayang, dengan memberi pilihan, “Mau menurut atau orang tersayangmu mati?”
Penindasan itu telah berlangsung selama setengah abad. Ki Warugan menyesali dirinya tidak datang lebih awal untuk menghentikan tindak tanduk tak manusiawi para juragan. Ki Warugan memasuki Tanjung Wungu dengan menyamar sebagai tua renta yang tersesat. Dia ditolong oleh seorang perempuan tua yang mengaku kehilangan kekasihnya di masa awal penindasan. Perempuan tua itu pun mengaku dia masih belum usai berduka dan tidak mencari lelaki pengganti lain, dia masih penuh harap bahwa kekasihnya masih hidup. “Aku ingat lelakiku berkata: aku tidak akan mati sebelum aku terbebas dan menikah denganmu.”
Mereka tiada punya daya upaya untuk memberontak. Betapa tidak? Para pemuda bertenaga dan orang tua yang masih punya kekuatan, kesemuanya digiring menjadi budak. Anak-anak bayi lelaki yang baru lahir langsung direbut untuk diasuh menjadi calon pekerja. Para perempuan terlalu berduka untuk mengangkat senjata. Belum lagi begundal-begundal berotot yang wara wiri membuat onar, membuat mereka makin takut. Ki Warugan teriris hati mendengar semua derita itu. Hampir seluruh rakyat jelata di bawah kaki gunung itu memiliki cerita yang sama.
Dalam ilmu sihir putih yang ia tekuni, tipu muslihat demi kebaikan yang lebih besar itu diperbolehkan. Kepalang tanggung, sebab kesengsaraan ini begitu masif adanya, maka Ki Warugan mau tak mau harus berbuat lebih. Ki Warugan bersiasat dengan menyamar menjadi juragan dari negeri seberang yang mengaku dapat membangun seribu candi dalam waktu satu malam. Pada sebuah pertemuan akbar para juragan di pusat kota, Ki Warugan menginterupsi.
“Hai kalian para juragan. Bangunan yang kalian buat tidaklah lebih megah daripada milikku. Aku mampu membangun seribu candi dalam waktu satu malam. Akan kubuktikan dan sebagai gantinya kalian akan pergi dari sini.”
Ki Warugan pertama-tama ditertawakan oleh mereka.
“Mana ada yang bisa menandingi hasil karya kami? Seluruh dunia sudah mengakui. Kejayaan peradaban ada di tangan kami.”
Ki Warugan membungkam mulut mereka semua dengan satu gerakan tangan ke atas. Tempat pertemuan itu adalah sebuah piramid dengan puncak emas. Keduapuluhtiga juragan itu duduk di meja melingkar tepat di bawah titik pusat puncak piramid. Dengan gerakan yang begitu lihai, Ki Warugan sudah mendarat di tengah-tengah meja pualam. Gemuruh membuat tanah bergoncang. Seserpihan batu berjatuhan dari puncak piramid. Para juragan itu mendongak ke atas dan mendapati penyebabnya. Puncak menara piramid tengah diangkat dengan tangan raksasa tak kasat mata, diputar-putar, menyebabkan struktur piramid itu kacau balau. Balok-balok batu pengunci berjatuhan.
“Ini sihir!” salah satu dari mereka berseru.
“Cukup kisanak! Hentikan perbuatanmu, sebelum nyawa berjatuhan akibat batu itu.”
Ki Warugan berhenti. “Lalu apa arti nyawa rakyat jelata buatmu?”
“Demi kejayaan, apalah arti nyawa rakyat jelata.”
Pernyataan itu membuat Ki Warugan geram. Seumur-umur belum pernah ia seperti ini. Ini adalah pertama kalinya ia mengkonfrontir para pelaku kebatilan secara langsung. Maka dengan suara menggelegarnya ia menjawab pernyataan kurang ajar tersebut. “Aku beri waktu kalian sampai tengah malam nanti. Bila kalian tidak segera membebaskan para budak malang dan jika kalian tidak segera pergi dari Tanjung Wungu ini, maka bangunan-bangunan megah kalian akan luluh lantak.” Sebagai permulaan atas kebenaran ancaman itu, Ki Warugan mengerahkan sepersekian kekuatan sihirnya untuk mengangkat puncak emas piramid dan melemparnya jauh menubruk sebuah patung megaraksasa kucing duduk. Suara gelegar dan goncangan membuat para juragan lari kalang kabut.
Namun semua itu sesungguhnya hanyalah tipuan mata saja. Ki Warugan tidaklah gegabah akan melemparkan benda sebesar itu, bisa jadi ada rakyat jelata yang lagi bekerja di bawah sana dan tertimpa. Sepanjang malam Ki Warugan melancarkan tipu muslihatnya, membuat seolah-olah bangunan-bangunan megah itu hancur lebur satu per satu. Para juragan yang menyaksikan sampai lemas kaki dan pingsan. Kejayaan setengah abad mereka hancur dalam semalam. “Ancaman itu benar. Sia-sia sudah pekerjaan setengah abad ini.”
Ki Warugan tadinya mengkhawatirkan bakalan adanya pembunuhan massal sebagai balasan atas tindakannya ini. Untunglah para begundal tukang pukul juragan itu lari kalang kabut takut terhadap gempa khayalan. Mereka sibuk menyelamatkan diri kabur dari Tanjung Wungu. Para rakyat jelata pun dibuat heran, sebab mereka tidak merasakan adanya gempa. Hal itu memberi mereka keberanian untuk mengusir dan membalas tiap pukulan yang pernah diberi para begundal.
Keesokan paginya tidak ditemukan seorang pun juragan di tengah kota. Rakyat jelata sorak sorai menyambut kerabat mereka yang kembali dari perbudakan. Perempuan tua yang menanti kekasih lamanya kembali bersuka cita, walau sebagian dari mereka telah diketahui bahwa kekasihnya sudah lama mati akibat penindasan.
Ki Warugan memperoleh kekuatan dari langit. Sebagai balasan laku kebajikannya.
Belum sampai kemerdekaan yang rakyat jelata itu rayakan menyurut, Ki Warugan merasakan adanya marabahaya menyusul dari balik kabut fajar. Adalah beberapa juragan yang demikian tahu ini adalah tipu daya sihir, kembali bersama seseorang yang tak diduga-duga. Membuat Ki Warugan lupa diri. Sampai lupa harus menjejak pada pandu keyakinan.
Dia adalah si penyihir golongan natural satunya. Sayangnya, dia seorang perempuan. Seorang perempuan yang menorehkan luka dalam di jantung Ki Warugan. Demi menghilangkan atau menekan rasa sakit itu, Ki Warugan melakukan perjalanan panjang mencari suatu cara menghentikan si perempuan penyihir natural beraliran hitam. Ilmu kuno haruslah dilawan dengan ilmu kuno. Hanya saja, Ki Warugan tak menyangka babak penentuan ini tiba begitu mendadak. Rasanya ia belum siap.
Penyihir perempuan itu bernamakan Nyai Toreh. Kedatangannya yang diarak oleh para juragan yang marah sebab baru ditipu mentah-mentah, membuat para rakyat jelata tercengang. Betapa tidak, Nyai Toreh mengendarai tikar terbang!
Ki Warugan menyamar menjadi tua renta dan berusaha menurunkan kadar aura penyihirnya. Sebab ia tahu Nyai Toreh mampu membaui. Ki Warugan menyusup di antara kerumunan rakyat jelata yang kebingungan.
“Katakan dengan sejujurnya bahwa kalian telah menyewa seorang penyihir untuk memerdekakan kalian kan?” suara Nyai Toreh begitu tenang namun juga memberi desakan yang tak mampu ditolak.
“Ada penyihir di antara kalian! Maka kami bawa penyihir terkuat sedunia untuk melawannya. Kalian tidak akan pernah bebas. Sekali budak tetap budak.” Kata seorang juragan yang berjanggut panjang dan dipilin serta diminyaki.
Kerumunan rakyat jelata saling pandang takut-takut, dilingkupi kebingungan. “Apa maksud perkataan Nyai itu? penyihir? Jaman sekarang masih ada penyihir?”
“Aku satu-satunya penyihir di dunia. Telah kutaklukkan semua penyihir yang ada. Dari kejadian ini berarti kutahu masih tersisa satu penyihir lagi di dunia. Seorang yang kukira sudah mati. Ungkapkan jati dirimu, Kisanak!” Nyai Toreh melayang perlahan dari tikar terbangnya, makin naik ke langit. Baik rakyat jelata dan para juragan melihatnya dengan tercengang.
“Sihir masih ada. Sihir itu nyata.” Gumam di antara mereka.
“Kisanak. Aku tahu jati dirimu. Muncullah. Kaulah satu-satunya yang belum kubasmi dan kurenggut jantungmu biar jadi mustika kekuatan. Mau kau aku bantai rakyat jelata ini biar kau muncul?” Pasang mata Nyai Toreh sudah menyala seperti kilat waktu badai. Tubuhnya yang dililit selendang aneka warna, jalinan mustika yang mengalungi leher dan pinggangnya, serta mahkota bertatahkan rubi merah bertuah, ikut menyala. Dari jemarinya muncul jalaran petir yang menjilat udara. Langit sekitar pun menjadi suram.
Ki Warugan tak bisa membiarkan ini berlanjut. Tak mau secuil nyawa melayang sia-sia. Maka ia terpaksa membuka aura sihirnya dan mengirim secara telepati sebuah pesan kepada Nyai Toreh. “Bukan rakyat jelata yang kau inginkan. Akulah yang kau cari. Bila kau menghendaki mustika jantungku, maka hentikan semua ini. Mari beradu bila yang kau inginkan adalah itu. Beradulah denganku. Sebab tinggal kita berdua penyihir natural yang masih hidup.”
Nyai Toreh meredupkan kilatan di langit mendung. Mata menyalanya menengok ke satu orang, ke seorang tua renta berbadan ringkih dengan tulang menonjol, sorotan mata itu menjawab melalui telepati pula. “Kau menantangku duel, Kisanak Warugan? Petaka terakhir tidak menggentarkanmukah?”
“Hentikan semua ini dan mari kita beradu. Sudah terlalu banyak nyawa rakyat jelata yang melayang sia-sia.”
“Baik jika itu yang kau maui, Kisanak. Omong-omong, aku pun rindu padamu.”
Perkataan itu membuat luka di hati Ki Warugan terbuka kembali.
Kemudian langit kembali seperti semula dan Nyai Toreh turun dan duduk anggun kembali di tikar terbangnya. Kepada para juragan ia menyampaikan, “Akan ada duel malam ini.” Lalu ia melayang pergi, ekor tikarnya berkelebat meninggalkan awan putih menggantung di udara. Para juragan terbengong tak mendapatkan kepastian apakah mereka bakal memperoleh kejayaan kembali atau tidak nantinya. Sebab mereka sudah jauh-jauh dan menggelontorkan keping emas yang tidak sedikit demi mengundang Nyai Toreh yang termashyur kesaktiannya.
Luka yang terbuka kembali itu membuat Ki Warugan pikirannya mengembara ke peristiwa petaka terakhir.
Menjadi anggota paguyuban sihir Randang Gageh adalah pencapaian teristimewa bagi para penyihir. Banyak terdapat paguyuban sihir di dunia, namun Randang Gageh ini yang paling ternama. Dahulu kala, penyihir yang tergabung kebanyakan berasal dari golongan penyihir natural. Namun seiring jaman, penyihir natural makin berkurang. Rupanya Raja Langit makin pilih-pilih untuk menganugerahkan.
Paguyuban sihir Randang Gageh terdiri dari penyihir mumpuni baik laki-laki maupun perempuan. Semenjak berdirinya, terdapat satu pantangan paling utama di paguyuban tersebut. Penyihir Randang Gageh tidak dibolehkan saling jatuh cinta!
Adalah Nyai Toreh yang merebut hati Ki Warugan. Kecantikannya yang memukau. Lakunya yang lemah lembut (setidaknya pada masa itu). Tak dapat dibendung, Ki Warugan mengungkapkan rasa cintanya itu. Nyai Toreh menerimanya. Namun mereka harus melakukannya secara diam-diam. Mereka memadu kasih dalam sambungan telepati. Sebuah keistimewaan bagi penyihir natural. Namun begitu, tetaplah jalinan cinta itu dapat tercium oleh anggota lain yang begitu sangat taat terhadap manifesto paguyuban. Mereka berdua dipisahkan selama kurun waktu puluhan tahun. Dalam masa-masa pisah itu Ki Warugan selalu khawatir terhadap Nyai Toreh. Yang tidak Ki Warugan ketahui adalah, Nyai Toreh memanfaatkan masa pengasingan itu dengan mengembara ke wilayah dengan sihir kuno. Kebanyakan sihir kuno, lebih berbahaya daripada sihir modern. Nyai Toreh menggeluti lembaran-lembaran lontar berisi mantra dan petunjuk mendapatkan kesaktian sihir tertinggi dengan instan.
Puluh tahun pengasingan itu usai. Keduanya diperkenankan kembali dengan syarat: jangan mengulang jatuh cinta! Ki Warugan terpaksa mematuhi sebab bila tidak, dewan tinggi sihir akan mencabut kemampuan sihirnya. Namun di satu pertemuan dengan Nyai Toreh, perempuan itu menyatakan sesuatu yang lain. “Cinta itu harus diperjuangkan, Kisanak.”
“Situasi kita tak memungkinkan.”
“Maka akan kubuat mungkin.”
Ki Warugan was was terhadap apa yang direncanakan Nyai Toreh. Dari situ ia sudah sedikit mencium bau tidak becik dari niatan Nyai Toreh. Benar disangka, pada pertemuan triwulanan penyihir paguyuban Randang Gageh. Nyai Toreh membantai penyihir yang ada dengan kekuatan kegelapan dan petir yang mengerikan. Hanya segelintir yang berhasil melenyapkan diri kabur. Ki Warugan barulah menyadari, Nyai Toreh menjalani laku sesat. Ki Warugan segera menuju satu pusaka utama Randang Gageh dan menyelamatkannya sebelum Nyai Toreh menguasai benda tersebut. Benda tersebut kini bersemayam di jantung Ki Warugan, sebuah mustika putih nagajawa.
Amukan Nyai Toreh mengakhiri keberadaan paguyuban sihir Randang Gageh yang berdiri di atas angin.
Sebelum bertemu malam duel penentuan, Ki Warugan menyempatkan diri bersemedi mendalam. Esensi jiwa Ki Warugan melebur masuk ke dalam mustika putih nagajawa. Di dalam situlah, esensi jiwa para penyihir jaman dahulu menyatu, secuil jiwa mereka yang dititipkan demi paguyuban Randang Gageh sebelum mereka moksa. Ki Warugan mencari petunjuk demi mengalahkan Nyai Toreh. Mengakhirkan kejahatan tak terperi yang dilakukannya.
Bagaimana mengalahkan seorang penyihir jahat yang telah menelan jiwa-jiwa manusia dan penyihir? Seorang penyihir yang mampu mengekstrak jiwa untuk kemudian dijadikan nutrisi kekuatan sihir hitamnya. Ki Warugan bertanya, mereka menjawab, “Janganlah kau hadapi si perempuan sesat itu. Kau akan mati sia-sia.”
Jawaban itu merupakan jalan buntu. Ki Warugan memilih untuk mengolah pikir sendiri. Lama-lama akhirnya ketemulah jawabannya. Ki Warugan mendapatkan kemantaban pandu. Kali ini, dirinya tak lagi bergoncang akibat luka lama itu. “Malam ini, semua tentangmu akan tuntas Nyai Toreh.” Begitu ia berkata kepada Nyai Toreh yang sudah bersiap di gelanggang megah terbuka tempat budak diadu pakai kereta kuda.
“Kau begitu yakin, Kisanak. Kau mungkin lupa bahwa semua kekuatan penyihir telah berada di genggamanku.”
“Aku tidak lupa tentang itu Nyai. Justru aku mengaku kalah. Sia-sia memang menghamburkan kekuatan untuk menghadapimu. Ilmu yang kuperoleh melalui kebajikan tidak akan pernah mampu menandingi kekuatan pintasmu itu. Maka jika kau memang menginginkan diriku sebagai penyihir natural terakhir, maka ambillah.”
Rakyat jelata yang menyaksikan merasa kecewa. Pahlawan dadakan itu mengapa malah menyerahkan diri? Sementara para juragan tertawa puas. Negeri Tanjung Wungu akan kembali ke tangan mereka.
“Ah kau mengecewakanku, Kisanak. Aku mengharapkan perlawanan.”
“Sudah kubilang, Nyai. Percuma melawanmu.”
Nyai Toreh membumbung ke angkasa. Tangan merentang dan menjadikan langit mendung dan menggelegarkan petir. Suaranya membahana, “Pahlawan kalian menyerah, lihat itu! Tidak ada yang mampu menandingiku.” Nyai Toreh melancarkan serangan samberan petir tepat ke jantung Ki Warugan.
Sebelum sampai ujung petir maut itu menyentuh dadanya, Ki Warugan telah melancarkan seni sihir kuno. Sihir kuno aliran putih yang cukup berbahaya bagi kelangsungan hidup raga si pelakon. Namun ini adalah satu-satunya cara menuntaskan Nyai Toreh. Petir menerabas tubuh Ki Warugan sampai ludes. Kini partikel jiwanya terhisap masuk ke dalam raga Nyai Toreh.
Inilah tujuan Ki Warugan. Ia melebur ke dalam diri Nyai Toreh untuk membebaskan jiwa-jiwa manusia dan penyihir yang dibunuh. Di dalam tubuh Nyai Toreh, Ki Warugan melakukan serangan dari dalam. Sejurus lalu dirinya melebur menjadi partikel kecil untuk kemudian menyatu kembali di dalam. Serangan petir itu sesungguhnya tidak mengenai dirinya sama sekali. Sebab tubuh yang tadi disamber petir dahsyat Nyai Toreh adalah tubuh kosong yang dibuatnya dari seni sihir mengendalikan partikel. Ki Warugan mengondisikan dirinya moksa separuh. Kesempatan masuk ke dalam tubuh Nyai Toreh adalah melalui serangan maut tersebut.
Dari dalam tubuh Nyai Toreh, Ki Warugan berkata, “Kebiasaan watak para penyihir yang menyangka dirinya mumpuni adalah kelengahan dalam kepongahan. Matilah kau Nyai Toreh!”
Ki Warugan mengaktifkan mustika putih nagajiwa. Sinar pusaka peninggalan dewan sihir dunia itu membebaskan jiwa-jiwa manusia dan penyihir yang terkurung dalam cengkeraman penyerap kekuatan dalam tubuh Nyai Toreh.
Nyai Toreh yang tengah melayang di atas angin kebingungan. “Ada apa ini?” Tubuh fisiknya berlubang dan memancarkan sinar putih. Bersamaan dengan sinar putih yang menghabisi raganya itu jiwa-jiwa malang terbebaskan, ada yang langsung menuju ke langit ada pula yang masuk ke alam kubur. “Tidaak! Kekuatanku!”
Para juragan laknat menyaksikan itu dengan bingung. Lebih bingung dan panik lagi sebab rakyat jelata telah mengangkat senjata dan mengepung mereka.
Makin lama tubuh Nyai Toreh habis karena lubang menganga kian besar melahap fisiknya. Sementara esensi jiwa Nyai Toreh melesak masuk ke dalam mustika nagajiwa ketika semua jiwa-jiwa malang korban pembunuhan Nyai Toreh telah terbebaskan semua. Ki Warugan yang separuh moksa membentuk kembali dirinya dalam wujud yang setengah transparan. Tugasnya selesai di Tanjung Wungu. Rakyat jelata akan merebut hak hakiki mereka sebagai manusia merdeka.
Jika tak mampu melawan dari luar, lawanlah dari dalam.
Perjalanan Ki Warugan tetap berlanjut. Upaya untuk mengutuhkan kembali wujudnya terbentang panjang ke depan. Setelah semua itu tercapai, barulah dia akan moksa sempurna. Sementara itu, ia akan tetap mengelana membantu para manusia kurang mujur yang ditindas oleh ketidakadilan. Dalam jantungnya, mustika putih nagajiwa dengan kuat mengurung esensi jiwa Nyai Toreh.