DITAKSIR GENDERUWO DISKO

Biasanya makhluk gaib berbadan tinggi dan berbulu ini mendiami tempat-tempat yang gelap, lembab, dan tak lagi tersentuh manusia. Kebanyakan juga tinggal di pohon-pohon, rawa, dan rumpun bambu. Beda dengan genderuwo satu ini. Dia masih bertahan di tempat yang dulunya menjadi permukiman bangsanya, yang kemudian tergusur oleh hadirnya bangunan disko. Genderuwo ini bersembunyi di sudut yang gelap dekat toilet perempuan. Menanti perempuan dari kalangan manusia untuk menyenangkan hatinya. Perempuan yang punya harum tertentu. Lama dia menunggu, belum juga ketemu.

Genderuwo satu ini mampu bertahan di tempat itu karena punya perjanjian dengan orang yang disewa pemilik diskotik untuk mengusir semua makhluk halus di area itu. Genderuwo itu bersedia membantu apa pun yang orang itu minta, asalkan dia dibolehkan tinggal di sana untuk menanti perempuan pujaan. 

“Kau ini, kenapa tidak kawini saja gandaruwi dari bangsamu sendiri. Jangan bikin spesies baru di alam kami, deh,” kata Ki Brondas, si pengusir hantu.

“Cewek-cewek bangsaku tak menyukaiku karena rupaku yang buruk rupa.”

“Walah, menurut mataku, kau ini yang paling rupawan. Sinting bangsamu itu.”

“Hush, jangan keras-keras, nanti temanku ada yang mendengar dan kau bisa celaka.”

“Ya, kau halau mereka. Kan, perjanjiannya begitu.”

“Bawakan aku sate gagak, ya, kalau kau kemari lagi.”

“Ya ya ya, asal kau jaga sikap di sini, dan bersedia kupanggil kapan saja. Sekalian jaga tempat ini dari orang-orang laknat ya, kadang mereka suka bawa makhluk aneh-aneh juga ke tempat ini.”

“Baik tuan.”

“Nggak usah panggil tuan, panggil Bro saja.”

“Siap, Bro.”

“Ya sudah, kau nikmati tempat ini. Sekalian kau bisa pelajari orang-orang yang datang ke sini. Observasi maniak-maniak disko itu. Di sini sifat asli mereka keluar semua gara-gara mabok. Gila gila, kau ini, introvert di tengah keramaian ya. Kusebut kau Genderuwo Disko saja kalau begitu. Jangan sungkan, kalau kau nanti minat joget, joget saja, asal jangan kau senggol tamu-tamu tempat ini. Bisa keder mereka. Kalau keder, tempat ini lama-lama sepi. Aku bisa kena semprot sama yang punya.”

“Siap, Bro.”

*****

Arum gila kerja. Maklum, dia mengemban beban yang berat sebagai tulang punggung keluarga di kampung. Arum merantau demi mendapatkan kerja di kota. Setelah pontang-panting sana kemari, akhirnya dia diterima bekerja di kantor elit pusat kota. Itu semua berkat kebaikan hatinya menolong seorang bapak tua menyeberang jalan menuju halte. Arum direkomendasikan oleh bapak itu.

Pesan dari ibunya selalu dia pegang teguh. Di kota, jangan memikirkan yang tidak-tidak. Fokus kerja demi keluarga. Arum mesti menyisihkan tujuh puluh persen penghasilannya untuk mereka. Tak heran, tubuh Arum tak juga gemuk-gemuk. Makannya irit. Prinsip yang ditanamkan ibunya untuk tidak foya-foya dia pegang teguh. 

“Di kota banyak godaan, kamu jangan ikut-ikutan mereka, ya, nduk.”

Arum fokus kerja. Semua tugas dia kerjakan dengan baik. Dia cerdas dan cekatan. Arum tak masalah mendapat tugas lebih dari tugas pokoknya. Diberi limpahan dari rekan-rekan lain juga dia ladeni. Semua demi kenyamanan hidup ibu dan adik-adiknya di kampung. Karena ketangguhannya itu, Arum cepat menanjak naik karirnya. Lewat tiga tahun bekerja, kini dia sudah jadi supervisor. Gajinya lumayan. 

Saking keranjingan kerja, Arum sampai tidak sempat membangun hubungan sosial dengan manusia lain, baik di lingkungan kerja dan di tempatnya singgah tidur. 

“Kamu fokus kerja saja, nduk, ndak usah neko-neko. Hidup kamu yang sebenarnya ada di desa. Kota bukan darahmu.”

Di belakang Arum, rekan-rekannya menyebutnya robot korporasi. Meski begitu dia tidak dibenci tidak juga dijauhi. Dia hanya tidak sempat berinteraksi lebih dari rekan kerja. Rekan-rekannya juga heran, ada workaholic ambisius yang susah untuk dibenci. Arum memperlakukan pekerjaan dan rekan-rekannya dengan baik. Kelihatannya seimbang, tapi di sisi lain Arum seperti mau tumbang.

“Hidup cuma sekali, Rum, jangan terlalu serius begitu, lah,” suatu kali manajernya, Ami, menegurnya.

“Karena hidup cuma sekali, aku tidak bisa main-main,” balas Arum. 

Pertaruhan hidup Arum adalah masa depan adik-adiknya yang masih butuh sekolah sampai kuliah. Ayahnya sudah tidak ada. Bukan meninggal, tapi kabur dengan wanita lain. 

“Kamu nggak akan mengerti,” tambah Arum.

“Kamu butuh senang-senang sekali-sekali, lah,” Ami tak berhenti membujuk Arum. 

Memang, Arum sangat bisa diandalkan. Dia paling jarang sakit, dan tidak pernah ambil cuti. Setiap tahun dia menyabet penghargaan karyawan paling berdedikasi.

“Aku baru akan senang kalau adik-adikku kenyang dan terjamin masa depannya.”

“Masa depan itu masih jauh,” kata Ami.

“Aku mau lihat adik-adikku lulus kuliah dan jadi orang berguna.”

“Oke, lulus kuliah ada parameter waktunya, tapi kalau jadi orang berguna, bagaimana?”

Arum tak menjawab pertanyaan itu.

Ami prihatin melihat Arum. Sebagai sahabat sekaligus manajer yang baru sekitar enam bulanan ini mulai akrab dengan Arum, dia harus melakukan sesuatu. Tapi apa?

Tak mau putus asa, Ami mengumpulkan rekan-rekan kerja Arum secara diam-diam. Ternyata mereka juga punya keresahan yang sama. 

“Arum perlu senang-senang.”

“Hidup cuma sekali, masa isinya kerja doang.”

Dan macam-macam yang senada.

Arum sangat sulit diajak pergi bersama-sama. Dulu Ami pernah mengadakan acara staycation, di mana beberapa karyawan terlibat romansa kantor semakin membara asmaranya di sana, tapi Arum tidak mau ikut. Memang acara itu inisiasi bersama dengan dana patungan bersama juga. 

“Ah, aku tahu. Office Gathering!” usul Ami. “Tapi yang nggak formal-formal amat. Ah, team building!”

“Kita outbond?” tanya salah satu karyawan.

Ami menggeleng. “Bakal capek, dia pasti ogah.”

“Terus, di mana?”

“Ke diskotik!”

“Wahh!” sebagian besar pada tepuk tangan.

“Dibayarin kantor?”

Ami menggeleng. “Atasan pasti nggak setuju.” Ami berpikir. “Hmm, terpaksa deh, demi kawan, aku rogoh kocek sendiri.”

“Tapi dia bakal tahu.”

“Nggak, dia bakal manut,” kata Ami yakin.

Di rapat-rapat rahasia itu, Ami menandai salah satu karyawan cowok yang beberapa kali melirik ke kubikel Arum. “Heh, kamu, jangan cepu, ya.” 

“Ng-nggak, mbak. Aku dari Blora.”

Semua tertawa.

Ide itu kemudian disampaikan di rapat rutin pagi hari. Ami memunculkan gagasan untuk satu hari departemen pemasaran keluar menjaring calon klien, tak terkecuali Arum sebagai supervisor. Dia dipasangkan dengan cowok yang dikira Ami bakal cepu tapi ternyata dari Blora. Cowok itu namanya Gito. Pipinya seketika memerah begitu mendengar bakal seharian penuh bersisian dengan Arum. “Nah, apa pun hasilnya, kalian semua nanti kumpul di Disko G-Bliss, aku tunggu laporannya di sana.”

“Kenapa harus di sana?” tanya Arum.

“Kenapa nggak harus di sana?” balas Ami. “Ini mandat dari direktur, kita mau pakai pendekatan baru. Bagi teman-teman yang gagal menjaring klien baru seharian ini, kalian ditantang untuk menjaring di sana. Seru, kan?”

Sebagian besar tepuk tangan meriah, mengiyakan bahwa itu seru. Arum tampak merenung, gelisah. 

“Arum, ini bagian dari pekerjaan. Oke?” Ami memastikan. Arum mengangguk, tak ada pilihan lain. “Ada uang lemburnya,” tambah Ami. Itu membuat Arum memasang senyum kecil.

Ami merasakan tatapan curiga dari Ami tapi dia bodo amat. Di sisi lain, Gito mual-mual karena perutnya bergejolak saat mau berangkat memboncengi Arum naik motor. Sepanjang perjalanan jantungnya berdegup. Jalan motornya tersendat-sendat, apalagi waktu mengerem mendadak. Dia takut sekali Arum akan memarahinya karena cari kesempatan. Padahal, Arum tak peduli semua itu. Pikirannya fokus, merancang strategi menggaet klien baru. Tiap kali Gito mau basa-basi, Arum hanya membalas sekadarnya. Tak ada tanggapan berarti, atau ulikan yang kiranya bikin mereka lebih akrab lagi.

Gila, robot betul ini manusia, pikir Gito.

Arum tidak peka sama sekali betapa Gito gugup sekali berjalan di sampingnya. Arum diam saja, dingin. Dia sibuk dengan pikirannya. Harusnya hari itu jadi duet pertamanya Gito dengan Arum, tapi sampai menjelang sore yang melancarkan aksi hanya Arum seorang. Gito seperti tak ada di sampingnya, tak diajak berdiskusi sama sekali. Setiap kali Gito mau mengutarakan sesuatu, Arum sudah lebih dulu mengenyampingkan. Ini menyimpulkan satu hal, Gito tak pernah punya kesempatan mendekati Arum. 

“Nothing personal, biar cepat beres,” begitu kata Arum, melihat gelagat Gito yang gelisah. “Aku dapat bonus, kamu pun juga.”

“Te-terima kasih.” 

Rencananya, bonus Arum malam ini akan dikirimkan semuanya ke ibu untuk keperluan acara perpisahan SMA adik laki-lakinya. Arum tak akan pernah menyangka kalau malam ini akan mengubah hidupnya untuk selama-lamanya.

Hal serupa juga berlaku buat si Genderuwo Disko. Malam ini juga akan mengubah hidup—eh—apa ya sebutannya buat makhluk gaib—eksistensi? Untuk selama-lamanya juga. Yang lebih lama dari selama-lamanya manusia.

Arum boleh berbangga diri karena tantangan hari ini dia berhasil mengantongi 12 nama klien baru. Semua tinggal dikirimi kontrak digital untuk diulas. 

Sesampainya di disko G-Bliss itu, Arum hanya mendapati Ami di meja bar. “Yang lain mana?” tanya Arum.

“Lagi mencar, mereka gagal.”

“Oh. Aku dapat 12.”

Ami berbinar-binar matanya. “Wahh, kalau begitu ini malammu.”

“Aku boleh langsung dapat uang lembur atau bonusnya saja, nggak? Aku mau pulang. Toh tugasnya sudah beres.”

Ami mendecak. Dia kelupaan soal antisipasi hal macam ini. “Bagian dari tugas, tidak ada yang boleh pulang sebelum yang lain dapat klien setidaknya 3.”

Arum mendecak kesal. 

“Daripada manyun, nih minum.” Ami menyodorkan minuman yang sudah diracik oleh bartender. Arum memandangi saja minuman itu, tak tahu apa nama dan campuran minuman itu, tampak tak berminat juga. “Aku ke kamar kecil bentar. Jangan pulang, lho, ya. Uang lemburnya batal nih kalau pulang.”

“Iya iya.”

Ami menyeret Gito yang mau mendekati Arum. 

Minuman itu masih belum juga menyentuh bibir Arum. Dia menunggu dengan bosan. Hingar bingar disko tak menggugahnya sama sekali. Ragam pasangan dengan gaya fesyennya masing-masing, dinamikanya masing-masing, geloranya masing-masing, tak juga membuatnya ingin ikut membaur. Ini benar-benar bukan dunianya. Arum tahu itu. Pesan dari ibunya masih terpatri kuat. 

Arum mengeluarkan air mineral dari tasnya. Lebih memilih itu untuk diminum.

Cowok bartender berusaha basa-basi, menjelaskan apa minuman di hadapan Arum, tapi ditanggapi dengan senyap. Arum gelisah. Sudah lebih dari satu jam dia menunggu. Rekan-rekannya, dan bahkan si Ami juga belum berkumpul. “Sialan, aku dikerjain,” Arum akhirnya paham. 

Dari sudut disko lain, yang remang dan dihingar-bingari oleh kerlap-kerlip lampu warna-warni mencolok, Ami dan rekan lainnya memantau. “Masih belum diminum juga, tuh.”

“Emang dikasih minum apa itu, Mbak?” tanya Gito.

“Biar lemes, biar nggak kaku kayak kamu.” 

Gito langsung mingkem.

“Transfer bonusannya sekarang kali, ya,” ide Ami. Rekan yang lain memberi anggukan. 

“Habis itu kita samperin. Kayaknya dia sadar kalau ini cuma akal-akalanmu Mbak,” kata yang lain. “Khawatirnya dia kagok, orang newbie banget, kan, ke sini.”

Di sudut disko yang lain, yang dekat dengan toilet perempuan, Genderuwo Disko baru saja pulang dari melaksanakan tugas titipan Dukun Brondas. Dia berdiri di satu titik yang tak bisa dilalui oleh manusia. Setiap ada yang lewat atau mendekati area 3x3 ubin tempatnya berdiri, pasti kepeleset, atau paling parah, terpental nubruk tembok.

Seperti malam-malam sebelumnya, Genderuwo Disko mengedarkan pandangan. Menyalakan radar. Mencari calon istri yang dia mau. Yang punya harum tertentu. Malam ini, dia merasa mengendus harum itu.

Matanya langsung tajam mencari-cari.

Pemindaian aura dimulai. Yang dia cari bukanlah cewek-cewek biasa. Dia mencari cewek yang aura penolakan besar terhadap laki-laki dari jenis manusia. Dia yang datang dengan membawa beban besar. Sampai-sampai lupa kalau kebahagiaan dirinya sendiri juga penting. Dia yang sudah tumpul terhadap keinginannya sendiri.

Dia telah menemukannya.

Ami dan rekan-rekan lainnya mengharapkan dengan adanya Arum di sini, beban hidupnya, apa pun itu, bisa terangkat sejenak. Tapi, yang sesungguhnya terjadi adalah beban Arum semakin berat.

Kepala Arum pening luar biasa. Ini bukan sakit kepala biasa. Ini yang semingguan terakhir dia tahan-tahan. Kepalanya berdentum dari area kelopak mata, pelipis, lingkar telinga, dan tengkuk. Dia minum air mineral sebanyak-banyaknya. Minuman dari Ami tak disentuh sama sekali, bahkan dia memesan air mineral dari bartender. Si bartender yang tampan menawarinya obat sakit kepala, tapi Arum menolak. Tadi siang pening ini tidak begitu mengganggu. Sekarang, dengan bertubi-tubinya pesan dari ibu menanyakan soal transfer uang, membuat pening itu datang merongrong, seperti menagih utang.

Genderuwo Disko meninggalkan spot favoritnya, menjelma sebagai cowok kece mentereng. Siapa pun yang melihat, akan melihatnya mengenakan baju paling modis sesuai selera mata mereka. Dia mendekat ke meja bar. Dia melirik Arum. 

“Berat ya jadi sandwich generation,” kata Genderuwo Disko.

Arum menoleh sembari meringis menahan sakit. 

Ami dan rekan-rekan lainnya baru saja beranjak untuk mendekati Arum ketika melihat Arum sudah ada yang menemani. “Nah, pesta dimulai,” kata Ami, mengajak bawahannya putar balik untuk lanjut berdisko. Gito melirik cemburu ke Arum.

Genderuwo Disko tahu apa yang terjadi dengan Arum. “Kamu kenapa?”

Arum tak menanggapi. 

“Energi buruk bisa menumpuk akibat kamu membiarkan dirimu terus-terusan terpuruk.”

Rima dari perkataan Genderuwo Disko membuat Arum menatapnya. 

“Obat paling paten pun tak bisa benar-benar melenyapkannya.”

Arum mengacuhkan. Dia menenggak air mineral banyak-banyak.

“Aku bisa bantu kalau kamu memperkenankan.” Genderuwo Disko bicara dengan nada lembut persuasif. Dia menyodorkan tangan, hendak menyentuh tangan Arum. Waspada, Arum segera menarik tangan, menyembunyikan di bawah meja bar.

“Oh, mungkin karena aku orang tak dikenal, ya. Okeh. Aku G.”

Arum mengernyit. Entah kenapa, mendengarkan G bicara, berangsur-angsur celekit di kepalanya berkurang. “G?”

“Iya, segitu saja dulu. Nanti kalau sudah saling kenal, baru kuberitahu lengkapnya.”

Itu membuat Arum menyunggingkan senyum. 

Di sisi yang lain, Ami bertepuk tangan melihatnya.

“Kamu memangnya tukang pijat?” tanya Arum.

G tersenyum manis. “Ya aku ada garis keturunan, begitulah, mau tak mau kemampuan itu turun ke diriku.”

Arum jadi rileks. Dia mengeluarkan tangannya dari bawah meja bar. 

“Boleh?” G tanya lagi. Arum mengangguk.

Hanya dengan satu sentuhan, Arum merasakan kelegaan paling sureal. Beban di pundaknya lenyap begitu saja. Plong. Rasa lega yang lama dia damba. Melebihi rasa lega yang dia candui dari menonton video-video kiropraktik dan ekstraksi komedo. 

Sisa malam itu juga terasa sureal bagi Arum. Untuk pertama kali, dirinya enteng. Plong. Lega. Bahagia.

Arum seperti mengalami kejadian transendensi.

Hal berikutnya yang terjadi adalah dia mendapati dirinya sudah di kamar kosan di gang sempit. Kosannya sendiri. Sebulan enam ratus ribu.

Hari itu beda. Arum bangun dengan senyum. Dia bahkan tak sadar mandi sambil bernyanyi. Hal yang sebelum-sebelumnya tidak pernah dia lakukan. Kata ibunya, nyanyi di kamar mandi pamali. Sekarang, satu album dia libas.

Arum sekarang harum. 

Di kantor, Ami dan rekan-rekan lainnya terpukau, apalagi Gito. Arum jadi murah senyum. Ami dan rekan-rekan lainnya angguk-angguk senyum. Rencana mereka berhasil. Mereka sendiri sebenarnya tidak benar-benar tahu apa yang terjadi semalam dengan Arum. Ingatan mereka berhenti di momen Arum mengobrol dengan seseorang.

Hari-hari berikutnya Arum jadi ringan menjalani hidup. Tapi, satu nama yang tak lengkap terus mengisi pikiran dan hatinya. G. Ami dan rekan-rekan lainnya, terutama Gito, memperhatikan Arum juga jadi pulang lebih cepat dari biasanya untuk pergi ke Disko G-Bliss.

“Aku lupa belum kasih tahu namaku sama kamu,” kata Arum.

“Sudah, kok, nama kamu Arum. Kamu juga harum,” kata G. Arum jadi tersipu-sipu.

“Kita kan sudah kenal, masa’ nama kamu cuma G?”

G tersenyum. “Gen.” 

Arum mengangguk-angguk. Kini, tiap kali ke sana, dia selalu menyempatkan berdansa dan berdisko sama Gen.

“Jadi gini ya rasanya punya hubungan sama orang,” kata Arum ke Ami. 

“Ciyeee ciyeee, boleh ketemu nggak nih kita?”

“Halah, bukannya kalian biasa stalking aku, ya?”

“Oops, ketahuan deh.”

Ami senang rencananya berhasil. Sekarang Arum lebih kelihatan manusianya.

Tapi, itu tidak berlangsung lama. Dera sakit kepala sampai pundak yang familiar di Arum datang lagi. Seperti biasa, datangnya dari ibunya sendiri. Kali ini bukan lagi soal kebutuhan adik-adiknya, tapi kebutuhan ibunya untuk menikah lagi.

“Menikah lagi?!” Arum bernada tinggi.

“Ya, kan, ibu berhak bahagia juga, Rum.”

Arum hanya terdiam. Di kepalanya muncul badai. Lalu kebahagiaanku bagaimana?

Ibunya dengan semena-menanya minta Arum untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin, secepat mungkin untuk biaya resepsi. Mendung kelabu langsung menyelimutinya.

Biasanya, Arum akan langsung menyanggupi. Ini dia hanya terdiam. Tangannya mengepal. Dia mengesah kesal. Tembok kosan jadi korban. Buku tangannya juga.

Hanya bersama Gen, kesal itu luruh. 

Arum mengabaikan pesan ibunya, jangan neko-neko di kota, dia membiarkan dirinya direngkuh Gen. Dikecup. Disayang. Dimanja. Arum juga merelakan dirinya dijamah. Dibawa pulang ke tempat Gen, yang ternyata punya kamar tersendiri di disko itu. Arum menyesal. Kalau ternyata semembuaikan ini, kenapa tidak dia lakukan dari dulu? 

Arum jadi tergila-gila sama Gen.

Rencana Ami memang berhasil, tapi kini dia jadi khawatir. Makin hari, Arum pakai pakaian yang lebih terbuka. Setiap hari pakai makeup. Arum makin harum, makin seksi.  

Ditambah lagi kini Arum tidak sengoyo dulu kalau bekerja. Targetnya dibiarkan berlarut-larut. Gito sampai harus turun tangan melanjutkan. Arum semakin sering ijin. Selidik demi selidik, Ami mengetahui Arum setiap hari ke disko untuk bertemu seorang laki-laki, yang anehnya sukar sekali dikenali wajahnya. 

“Arum dimabuk cinta, dan sekarang dia jadi gila,” kata Ami kepada Gito. 

“Kita mesti ngapain, Mbak?”

“Kamu coba rebut hatinya.”

“Itu lebih mustahil dari misi-misinya Ethan Hunt.”

“Aku kenalin ke dukun. Kamu pelet dia.” 

Gito menelan ludah. Gemetar mendengar ide itu. 

Dukun itu namanya Ki Brondas. Gito akhirnya menuruti permintaan Ami karena akan dijanjikan bonus sekian puluh juta. Pelet pun dijalankan. 

Namun, pelet itu malah menyajikan tragedi. Gito ditemukan mati dengan dada terbelah dan jantungnya mencuat keluar. Di permukaan jantung, terukir dengan pembuluh darah, adalah nama Arum.

“Ada yang melindungi Arum, sangat kuat,” kata Ki Brondas kepada Ami.

“Tolong bantu teman saya, Ki. Saya mau dia kembali.”

Sementara itu, selagi Arum rutin bergumul asmara dengan Gen, dia juga semakin mengurangi kiriman uang ke ibu dan adik-adiknya, bahkan tega menyetopnya. Itu mengakibatkan ibunya nekat mendatanginya ke kantor. Keributan terjadi, dan Arum tak peduli. Dia tega mengusir ibunya. Mengatai ibunya durhaka. 

“Aku capek jadi sandwich! Aku mau jadi croissant!” seru Arum. “Buat diriku sendiri!”

Keributan itu disaksikan oleh direktur perusahaan. Akibatnya, Arum kena SP. Ami tak bisa tinggal diam. Ini masalahnya ada di orang yang sedang digandrungi Arum. 

“Kamu kena pelet,” kata Ami kepada Arum. Ami tidak sendiri. Dia bersama Ki Brondas. Ini adalah intervensi.

“Ini adalah cinta! Kamu nggak suka aku bahagia?” sangkal Arum.

“Aku mau kamu bahagia, tapi tidak seperti ini. Kamu bahagia, tapi hidupmu hancur.”

“Sebelum ini juga hidupku sudah hancur. Ralat. Tidak ada yang hancur. Sebelum ini aku tidak punya hidup.”

Mendengar itu Ami terdiam, sukar mencari pembantahan.

Merasakan energi yang terpancar dari Arum, Ki Brondas bisa merasakan adanya pengaruh gaib. Dan dia tahu dari mana asalnya. Sekarang, Ki Brondas yang mengintervensi Genderuwo Disko.

Sebelum sempat Ki Brondas memaparkan kalimat intervensinya, matanya sudah melotot kemudian meledak. Dia kena cekik Genderuwo Disko. 

“Aku sudah menemukan yang kucari. Aku akan pergi dari sini. Manusia sesat macam kau tak berhak menghalangiku.”

Ami nekat. Tak mau kehilangan sahabatnya, dia menculik Arum dan menyekapnya di apartemen sambil dicarikan ustaz untuk rukiyah. Tapi, Ami salah langkah. Itu adalah hari terburuk yang pernah Arum lewati. 

Arum dapat telepon dari tetangganya di kampung, katanya adiknya terlibat judi online. Ternyata, selama ini uang yang dia kirim untuk biaya sekolah dan hari-hari dipakai untuk judi. UNTUK JUDI!!!? Arum mengamuk. Sia-sia kerja kerasnya selama ini. Dia rela tidak hidup untuk menghidupi orang-orang tak tahu diri, tak tahu bersyukur itu!

Waktu Ami sudah datang bersama ustaz, Arum sudah tidak ada di apartemennya. 

Arum sudah bersama Gen. 

“Aku ini sebetulnya bukan manusia. Aku Genderuwo.”

“Tidak masalah. Bawa aku ke alammu. Aku mau bahagia di sana saja.”

“Baik. Aku akan meladenimu seperti ratu segala ratu.”

“Ya, aku mau itu.”

“Tapi maaf, wujudku yang sebenarnya buruk rupa.”

“Aku tidak peduli.”



~~~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

INSOMNIAC SLEEPING BEAUTY

LOKA / LOCA? -- Part 1 "SELEKSI"

KI BONGKOK, POHON AJAIB, PUTRI ANGSA