Postingan

RUMAH JOGLO PUTIH

“I will hurt you for this. I don’t know how yet, but give me time. A day will come when you think yourself safe and happy, and suddenly your joy will turn to ashes in your mouth, and you’ll know the debt is paid.” ― George RR Martin, A Clash of Kings “Grudges are for those who insist that they are owed something; forgiveness, however, is for those who are substantial enough to move on.” --Cris Jami, Salome: in every inch in every mile   Dua teman yang lama tak berjumpa melakukan perjalanan yang telah direncanakan jauh-jauh hari ketika mereka masih bersekolah. Rima dan Tika, sudah belasan tahun tak berjumpa. Kali ini adalah waktu yang tepat bagi mereka. Waktu, kesempatan, dan dana mengijinkan mereka berangkat. Ke suatu tempat yang belum pernah mereka datangi. Bahkan, tak tertera di peta ponsel pintar. Di sebuah desa kecil pinggir sungai mereka tiba. Desa itu hening, rindang, dan bersahabat. Desa itu masih mempertahankan adat, itu terlihat dari rumah-rumah yang mereka...

MENTALIST. first scene on the first episode of season 1

Pita garis kuning polisi telah melingkupi satu kediaman, sebuah rumah dengan halaman hijau yang luas. Rumah itu tampak seperti rumah-rumah tua mewah yang kita temui di foto-foto kuno. Beberapa mobil putih hitam berhenti di depan rumah itu juga sebuah mobil paramedis warna merah. Ramai orang merubungi kediaman itu sebagian besar adalah wartawan, rupanya pemilik kediaman itu adalah orang yang cukup berpengaruh di lingkungannya, petugas sedang sibuk mengambil keterangan dan menjaga keramaian itu tidak membludak dan mengganggu pekerjaan polisi. Kru televisi tengah bersiap melakukan liputan. Beberapa orang melihat selebaran, baik yang ditempel di pohon maupun selebaran yang tercecer di jalan. Di situ terpampang foto seorang gadis yang dinyatakan ‘Hilang’ gadis berambut pirang tersenyum, alisnya tipis lurus, Mercy Tolliver. Datanglah dua orang, laki-laki dan perempuan, yang perempuan adalah detektif dan satunya konsultan. Si laki-laki bernama Patrick Jane, melihat-lihat dengan tenang, t...

BIG HEAD REX

“Maybe everybody in the whole damn world is scared of each other.” ― John Steinbeck , Of Mice and Men   Di sebuah kampung kecil di pojok kampung besar, dekat lereng gunung, seseorang hidup menyendiri.   Di Kampung Lereng dia tinggal. Dalam sebuah rumah kayu lapuk. Dia ditakuti oleh para penduduk kampung Lereng. Karena satu hal: kepalanya dua kali lipat besarnya. Jika saja dia punya ekor, dia bakal lebih mirip T-Rex. Seirama dengan namanya : Rex. Kepalanya terlampau besar, bukan karena mengidap tumor, memang dari awal kemunculannya (penduduk kampung tidak tahu menahu kapan Rex lahir dan siapa yang melahirkannya). Tangannya mungil, satu tangan utuh tapi ukurannya sepanjang bahu sampai siku tangan manusia normal. Telapak tangannya lebih kecil dari telapak tangan bayi yang baru lahir. Tapak kakinya besar. Tinggi Rex hanya sepinggul orang dewasa. Keseraman wujudnyalah yang membuat warga kampung teramat takut mendekati wilayah rumah kayu Rex.

GREEN REAPER -- CROSSOVER STORY

“GREEN REAPER” -oOo- Ada penjahat baru di kota indah bernama London. Pembunuh berantai yang dijuluki “Green Reaper” ini mengambil korban berumur antara 15 sampai 19 tahun. Kejahatannya berlangsung pada dini hari. Scotland Yard sampai kewalahan untuk menangkapnya. Sudah puluhan korban jatuh. Setiap beberapa hari sekali selalu ada orang tua yang melaporkan anaknya hilang, dan dua hari kemudian ditemukan tengkorak dengan secarik kecil kain hijau di belakang rumah mereka. Melalui uji tes DNA, diketahui benar itu adalah tengkorak anak mereka. Sungguh menggemparkan. Berita ini tak henti-henti digembar-gemborkan media selama setahun penuh. Sampai suatu hari, Detektif Wendy Darling turun tangan menangani kasus “Green Reaper” ini. Karena dia mengenali kain hijau itu tak lain adalah kepunyaan anak laki-laki yang pernah menculiknya sewaktu kecil dulu. Peter Pan. Dia berdiri di tepi karang di tengah lautan. Mengawasi kapal mewah yang berlayar menjauh. Kapten Hook telah merampok semua...

DUNIA MIKROSKOPIS

Di dalam dunia mikroskopis, dia menemukan Lingkar pupil itu seperti Galaksi, atau Nebula? Di dunia Mikroskopis. Jaringan Neuron.. ah... Jagad Raya... Semakin kecil ia, semakin besar apa yang pernah dianggapnya sepele. Setetes embun.. Dia hanya sebutir debu atom di hamparan dunia. Luas tiada tara... Di serpihan kaca, terdapat dunia Mikroskopis. Dirinya sangat ingin terlibat dalam dunia yang begitu kecil. Apalagi jika ada gelembung udara terjebak di retakan kaca itu. Di dalamnya mungkin ada makhluk Mikroskopis. Ia ingin bertemu. Supaya dia tetap terjaga. Bahwasanya dirinya bukanlah apa - apa. Di ketiadaan itu... Ia merasakan kuasa-Nya... ( catatan mengenai betapa kecilnya manusia)

LOKA / LOCA? -- PART 2 "DRAMA TENGAH MALAM" (bagian akhir)

“I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is permanent.” ― Mahatma Gandhi   Maafkan saya sebelum anda membaca cerita bagian lanjutan ini. Keterbatasan memori telah mengurangi kelengkapan cerita ini. Akan kukorek – korek gumpalan jaringan dalam batok kepala ini supaya cerita yang tersaji tidak melenceng jauh. Dan maafkan saya meminta maaf di awal, saya tahu itu tidak perlu. Yang paling penting di sini bukanlah detilnya, namun saripati.   Dan kau mempercayai apa yang terjadi, pada kekacauan, dan mereka mengelabuimu seperti trik sulap. Membuatmu tak mengerti apa yang terjadi, karena kamu bodoh....   Kami angkatan XXVIII. Hari kedua. Kenapa asrama menjadi gaduh seperti kebun binatang di waktu ospek begini? Apakah sejatinya esensi dari ospek itu sendiri? Adakah dia hanya sebuah permainan? Sebuah paradigma yang telah digunakan bertahun – tahun: balas dendam? Apa hak kita menentukan standard ...

LIZARD TONGUE -- STORY OF UNCOMMON LADY

Gambar
“There is no exquisite beauty… without some strangeness in the proportion.” ― Edgar Allan Poe   Hidup betul – betul tidak mudah bagi seorang Enola. Semenjak ia bisa bicara dan berjalan, anak – anak seusianya sudah pasti menjauh. Hanya satu atau dua saja yang berani berteman dengannya. Enola diberkahi ingatan super. Bahkan semenjak ia ditaruh di depan sebuah panti asuhan, ia ingat. Ia ingat wajah ibunya. Ia ingat itulah saat terakhir Enola melihat wajah sang ibu. Ke mana sang ibu? Kenapa aku ditinggalkan di sini? Pertanyaan itu sering melandanya di saat usia Enola menginjak dua belas tahun. Saat – saat sulit. Ia menjadi anak paling tua di panti asuhan itu dan tak satu pun orang tua yang berminat mengadopsinya. Hanya karena Enola memiliki kelainan. Kelainan itulah yang membuatnya dijauhi teman – teman. Kadang Enola bersedih hati. Malam – malam ia pergi ke atap dan menatap bulan. Ia berdoa. Mencoba mengingat wajah sang ibu. Di panti asuhan itu dia paling suka deng...