Jumat, 19 Mei 2017

PELITA KASIH


Keduanya telah saling jatuh cinta ketika pertama kali dijejerkan berdua di atas lantai. Api yang menyala di sumbu kepala mereka bergoyang malu-malu untuk saling berkenalan. Dalam suasana sendu rintik gerimis mengguyur bumi, dua manusia menghangatkan diri berdekatan juga demi penerangan. Kala itu desa mereka kena pemadaman bergilir. Pelita dari dua batang lilin tidak dapat mengusir keresahan pasangan yang baru menikah itu. Sepasang lilin tahu mengenai perasaan manusia, apalagi yang dilanda kesusahan, getar-getar emosi dapat merambat di udara. Pelita dari dua lilin jadi ikut sedih, mereka menunjukkannya dengan gejolak api yang meredup.
Keduanya menjadi saksi bisu dua pasangan manusia yang melakukan segala upaya untuk menjadikan hidup mereka lebih berarti. Keduanya terharu dan kadang juga gemetar ketakutan, kalau saja lilin dapat bergetar takut, saat sepasang manusia itu bertengkar. Namun akhirnya pelita mereka dapat menenangkan pasang manusia itu. Lagi-lagi listrik padam. Di saat-saat seperti itu, keduanya merasa hidup, sebab api kehidupan yang dinyalakan, menambah semangat pelita. Dengan hangat dan kepala api yang dapat membesar, mereka mengirimkan kehangatan kasih kepada sepasang manusia itu.
Keduanya terpisahkan jarak. Walaupun hanya lima atau sepuluh senti. Tetap saja terpisah. Cinta keduanya semakin berkembang, apalagi kalau dinyalakan bersama-sama. Pelita mereka akan saling berbincang dengan bahasa api. Keduanya tentram mengetahui bahwa panjang tubuh mereka selalu sama. Mereka jadi sayang terhadap sepasang manusia yang telah menyalakan pelita kasih di sumbu kepala mereka. Sebab tanpa bantuan tangan manusia, mereka tak akan bisa saling mengenal. Mereka tidak akan hidup tanpa pelita yang menyala. Pelita adalah jiwa keduanya. Keduanya senang dapat memancarkan kasih dari pelita kepada pasang manusia itu. Dengkuran pasang manusia yang saling tidur berpelukan, di lantai, di atas kasur lipat.
Keduanya tambah gembira. Di rumah yang selalu padam listrik dan bolong-bolong atapnya itu kini diramaikan oleh tangis bayi. Tangis kehidupan yang membuat pelita keduanya semakin membesar menerangi rumah petakan. Keduanya adalah lilin yang istimewa, yang lama tak kunjung habis. Mereka saling mencinta walau jarak memisahkan.
Suatu waktu, salah satu dari keduanya berjanji bahwa suatu saat nanti mereka akan bersama, walau kedengarannya tak mungkin. Sebab jarak mereka masih segitu-gitu saja. Salah satu dari keduanya percaya mereka nanti akan melebur dan memancarkan pelita yang bersatu. Alangkah tak disangka oleh mereka bahwa jalinan cinta mereka terwujud oleh campur tangan anak sepasang manusia. Keluarga kecil itu hendak pergi selama beberapa hari. Si anak kecil yang selalu mengamati dansa api lilin saat mati lampu, menyalakan keduanya di jam-jam menjelang keberangkatan. Keduanya percaya sebentar lagi mereka akan bersatu dalam cinta dan kasih. Untuk bersatu, nyala pelita mereka harus bertahan lama. Untuk perlahan-lahan mencairkan tubuh mereka, sebagai perandaian tangan yang saling meraih satu sama lain. Si anak kecil keburu pergi dan membiarkan keduanya tetap menyala. Pintu dan jendela dikunci, listrik sengaja diturunkan, keluarga kecil itu pun pergi.
Cinta kasih sepasang lilin akhirnya menyatu. Cinta mereka hangat dan kian menggelora seiring tubuh mereka meleleh dan bersentuhan, lalu melebur bersama. Gairah mereka panas, sepanas api membara yang melahap rumah keluarga kecil itu.






dalam rangka tantangan #NulisKilat Storial